[Prolog] Cerita di Tengah Hujan

cerita di tengah hujan

“Setiap orang pasti memiliki kenangan terhadap hujan, kan?”

Sebuah pertanyaan terlontar dari mulut seorang gadis ponytail sambil menutup gorden. Hujan lebat dan petir yang saling memunculkan gemuruh yang sedikit membuat kaget saling bersahut-sahutan di luar. Angin kencang pun meniup pepohonan, seolah-olah akan mencabut pohon-pohon tersebut.

“Termasuk lo?” tanya Fadhel, salah satu teman gadis itu, yang sedang duduk di sebuah kursi.

“Kenapa ditutup gordennya, Sa? Mati listrik, kan gelap,” protes Nisa yang duduk di samping Fadhel.

Gadis yang tadi menutup gorden, Alsa, hanya tersenyum. Senyum yang tidak bisa diprediksi oleh teman-temannya. Alsa mengeluarkan lilin dan korek api dari sakunya, lalu menyalakan lilin tersebut dan meletakkannya di atas meja, yang kebetulan ada di tengah-tengah ruangan.

“Kita bisa pake lilin kan?”

“Iyasih, Sa.”

Kedua manik Alsa menatap wajah-wajah temannya yang tengah duduk di kursi yang mengitari sebuah meja. Sejak sore, hujan badai tak henti-hentinya menyerang ibukota Jakarta, sehingga kini 6 orang murid SMA Nusa Harapan terperangkap di kelas mereka, 11 IPS 1.

“Nah, sambil nunggu hujan reda, kenapa kita gak sharing cerita tentang hujan aja? Kalian semua pasti punya pengalaman dengan hujan kan?” ujar Alsa sambil duduk di kursi yang masih kosong.

“Kok kesannya kita kayak mau ngepet ya? Satu meja ditengah, trus enam kursi mengelilingi meja. Segala ada lilinnya lagi,” celetuk Mahesa sambil melepas earphone-nya.

“Biar makin menghayati kan? Diluar udah malam, dan badai gak berhenti. Kebetulan mati listrik juga,” sahut Alsa.

“Lo niat ya, Sa. Ke sekolah bawa lilin. Jangan-jangan, ini semua udah jadi rencana lo,” komentar Ami sambil membetulkan letak kacamatanya.

“Enak aja! Gue kan, rajin nonton perkiraan cuaca di tv. Gak kayak lo, yang ditonton ftv doang,” sanggah Alsa.

“Yakali.”

“Kenapa gak cerita horror aja Sa? Horror tentang sekolah ini, atau apa gitu,” saran Ririn yang dari tadi diam saja.

“Horror boleh, tapi harus ada unsur hujannya ya.”

“Kenapa harus hujan sih, Sa?” tanya Fadhel yang masih penasaran.

Alsa hanya menatap Mahesa yang duduk di sampingnya, lalu Ami, Nisa, Fadhel, dan terakhir Ririn, sebelum menjawab.

“Karena…. gue lagi pengen denger cerita tentang hujan…”

“…. dimulai dari Mahesa ya?”

 

to be continued…..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s