The Memories [Part 1: 3 Tahun yang Lalu]

the memories

Pagi itu merupakan pagi yang sial bagi seorang pemuda berkacamata. Tidak hanya sepeda motornya yang mendadak mogok sehingga ia harus berdesak-desakan di angkutan umum, kini ia juga mendapat lemparan bola basket tepat di kepalanya, yang menyebabkan kacamatanya terpental entah kemana.

Sori!” seorang pemuda kurus berteriak kepadanya, membuat si kacamata itu kesal. Masih pagi kok sudah main basket. Pemuda itu hanya menatap kebawah, mencari kacamatanya walau pandangannya agak buram.

“Punyamu kan?”

Sebuah tangan terulur dihadapannya, dengan maksud mengembalikan kacamata itu kepada si pemuda. Sama-samar, si pemuda melihat sosok gadis dihadapannya sedang mengulurkan tangan putihnya. Tanpa berkata-kata, pemuda itu mengambil kacamatanya dari tangan kanan gadis didepannya itu.

“Trims,” ujar si pemuda sambil memakai kembali kacamatanya.

No problem. Namaku Kazuha,” sahut si gadis sambil tersenyum.

Pemuda itu menatap gadis yang bernama Kazuha itu dari atas sampai bawah. Rambutnya yang hitam legam dikuncir model ponytail dan diikat menggunakan pita berwarna putih, senada dengan kemejanya yang putih bersih. Wajahnya cukup manis, dengan mata yang agak sipit, hidung mancung dan bibir tipis. Perawakannya sempurna. Tinggi, dan tidak terlalu kurus. Senyumnya membuat pemuda itu menjadi bersyukur bisa terkena bola basket dipagi hari. Hikmahnya, dibalik sebuah kesialan, akan ada bidadari penolong yang datang.

“Namamu siapa?” tanya Kazuha yang melihat lawan bicaranya hanya melamun.

“Eh… namaku Ami. Salam kenal ya, Kazuha,” akhirnya pemuda itu memperkenalkan dirinya, lalu membalas senyum Kazuha.

“Eh, tolong dong bola basketnya kesiniin!” teriak pemuda yang tadi melempar Ami dengan bola basket. Ami hanya mendengus. Yang lempar siapa, yang ambilin siapa.

Kazuha pun mengambil bola basket didekat kaki Ami, lalu berteriak, “Hei, masih pagi kok udah main basket. Mana mainnya sendirian. Kamu yang butuh kan? Kesini dong?!”

Ami membulatkan kedua matanya, begitupun pemuda yang diteriakinya itu. Cantik-cantik, galak juga. Mau tak mau, pemuda yang di lapangan basket itupun menghampiri gadis ponytail itu.

“Loh, emang ada aturan yang larang main basket pagi-pagi ya? Lagian, olahraga pagi sehat tau,” balas si pemuda kurus jangkung itu.

“Gak ada yang ngelarang sebelum lo ngenain dia. Cepet minta maaf!” sengit Kazuha.

“Gue udah minta maaf kok, iya kan?” kini pemuda itu bertanya pada Ami.

“Udah…”

“Apaan minta maaf cuma ngomong ‘sori’ trus nyuruh dia balikin bola ke elo.”

 

“Kazuha…” Ami yang merasa tidak enak berusaha melerai adu mulut tersebut.

“Kalo tuh anak gegar otak gimana?” ujar Kazuha lagi sambil memelototi Mahesa.

“Udah Kaz…”  lagi-lagi Ami hanya bisa melerai.

“Nyatanya, dia baik-baik aja kan?” sahut si pemuda kurus sambil menunjuk Ami. Walau ia sedikit takut akan kegalakan gadis yang sama sekali tak dikenalnya itu.

Tanpa mereka bertiga sadari, kini mereka tengah menjadi tontonan siswa-siswi SMA Nusantara.

Yah… Ami berpikir kesialannya bertambah satu. Alih-alih mendapatkan bidadari, kini bidadari itu justru berubah menjadi nenek lampir yang galak. Walaupun nenek lampirnya cantik sih.

“Oke, gue turutin mau lo,” ujar si pemuda kurus sambil menghela napas, karena ia yang pertama kali sadar telah menjadi tontonan satu sekolah.

“Gue minta maaf ya… siapa nama lo?” tanya si pemuda kurus sambil menjulurkan tangannya pada Ami.

“Ami. Lain kali hati-hati ya,” nasihati Ami.

“Gue Mahesa. Lain kali gue bakal hati-hati, biar gak diomelin sama nenek sihir itu,” celetuk Mahesa sambil melirik Kazuha.

“Gue punya nama. Nama gue Kazuha!” sahut Kazuha yang tak terima dipanggil nenek lampir.

Mereka bertiga pun tertawa. Tak lama kemudian, bel tanda pelajaran pertama telah dimulai.

—<>—

Benar pemikiran Ami, dibalik sebuah kesialan, selalu saja ada hikmah yang tersimpan. Persahabatan mereka pun bisa terus berjalan hingga satu tahun kemudian. Semenjak insiden bola basket itu, mereka bertiga menjadi semakin akrab walaupun beda kelas. Mahesa, yang kini sudah naik ke kelas XI Bahasa 3, memiliki penampilan yang lumayan keren dengan tinggi 170 senti, walaupun berat badannya dibawah rata-rata. Memiliki bentuk wajah yang lancip, hidung mancung, dan bola mata yang agak besar. Selain karena ia good looking, ia merupakan kapten tim basket yang membuat ia terkenal dikalangan perempuan.

Sementara Kazuha, si gadis keturunan Jepang-Indo kelas XI IPS 2, selain memiliki porsi tubuh yang ideal untuk seorang wanita, yaitu dengan tinggi 160 senti, dan berat ideal, ia juga memiliki wajah yang cantik dan yang membuatnya semakin terkenal adalah, kedua iris matanya yang berbeda warna. Hijau iris mata kanannya, dan biru iris mata kirinya. Sama seperti Mahesa, ia juga populer, tetapi dikalangan laki-laki.

Tidak seperti kedua sahabatnya, Ami cenderung menjadi pemuda yang biasa saja. Bentuk wajahnya yang kotak, hidungnya yang tidak terlalu mancung, dan kacamata yang selalu menghiasi wajahnya. Tingginya hanya 165 senti dan dengan penampilan yang biasa saja itu, ia tidak begitu populer. Meski begitu, ia merupakan siswa yang cerdas dan berhasil masuk SMA Nusantara dengan nilai tertinggi. Dan kini, pemuda yang duduk di kelas XI IPA 1 itupun meraih peringkat 1 pararel IPA.

Dan kini, ketiga sahabat yang berbeda jenis dan genre itu sedang berkumpul di kantin dan membahas sesuatu yang menurut kebanyakan orang tidak penting.

“Pokoknya, kalo bakso kebanyakan kecap itu gak enak,” ujar Kazuha sambil memasukan 5 sendok sambal ke mangkuk baksonya. Mengomentari Mahesa yang hanya memakai sambal satu sendok dan kecap setengah botol.

“Lebih gak enak lagi kalo terlalu pedas,” timpal Mahesa.

“Ih, enakan pedas tau,” sahut Kazuha. “Ami sendiri suka bakso pedas atau manis?”

“Dua-duanya enak kok,” sahut Ami yang seperti biasa, ia adalah pemuda yang biasa-biasa saja dengan selera yang biasa-biasa saja.

Mou Ami-chan ttara…” gerutu Kazuha menggunakan bahasa jepang.

Ami hanya tersenyum, lalu memasukan kecap serta sambal ke mangkuknya dengan porsi yang sewajarnya. “Lebih enak kalo dua-duanya seimbang.”

“Sesekali lo belain gue kek Mi,” protes Mahesa.

“Gue gak pernah bela siapa-siapa kok kalo kalian debat. Udah ah, nanti baksonya keburu dingin,” ujar Ami sambil memasukan potongan bakso ke mulutnya.

Kazuha menatap Mahesa dengan tatapan debat-ini-dilanjut-nanti-habis-makan, sementara Mahesa menatap Kazuha dengan tatapan silakan-pasti-gue-yang-akan-menang. Ami hanya tersenyum memaklumi. Diantara mereka bertiga, Ami memang selalu menjadi penengah ketika mereka sedang berdebat, walau yang diperdebatkan selalu hal-hal yang tak penting. Kazuha yang bawel, Mahesa yang tak mau pendapatnya dibantah, dan Ami sang mediator. Kombinasi yang pas.

—<>—

“Kazuha!”

“A, Mahesa!”

“Ei, jangan lupain gue!”

“Ehehe, maaf Mi!”

Ketiga siswa SMA yang tengah saling sapa itu terlihat begitu riang saat keluar dari kelas masing-masing, membuat orang-orang yang berada di sekitarnya iri akan kedekatan mereka bertiga. Semakin hari, tampaknya mereka makin tak bisa dipisahkan. Itu yang terlintas di pikiran para siswa-siswi SMA Nusantara. Sudah dua tahun sejak insiden basket, artinya, mereka semua sudah naik ke kelas 3. Namun realitanya tak seperti apa yang dipikirkan oleh kebanayak orang.

“Hari ini, kita mau kemana?” tanya Kazuha bersemangat.

“Gue… ada les jam 4,” sahut Ami. “Jadi, kali ini gue skip dulu nongkrongnya.”

“Yah gak asik…” gerutu Kazuha. “Kalo Mahesa? Ada acara?”

“Ada latihan basket nih,” sahut Mahesa pendek.

“Kita kan udah kelas 3, kok masih boleh ikut eskul?”

“Yah… karena kemampuan dan kegantengan gue, makanya para adek kelas minta gue sebagai pelatih mereka.”

“Huu.. pede!” gerutu Kazuha dan Ami bersamaan.

“Yang penting ganteng,” elak Mahesa.

“Apa hubungannya?” tanya Ami heran.

“Ah, kalian gak asik! Kirain manggil karena mau ngajak main,” gerutu Kazuha.

“Sori Kaz. Kebetulan lihat aja, makanya gue panggil,” ujar Mahesa. “Yaudah, gue cabut duluan ya! Anak-anak udah nungguin tuh,” Mahesa pun segera menuju lapangan basket yang sudah dipenuhi tim basket kelas 1 dan 2. Kazuha menatap punggung Mahesa yang menjauh itu dengan tatapan aku-ingin-menendang-makhluk-tinggi-kurus-itu.

“Jangan sewot  gitu lah Kaz,” Ami berusaha memperbaiki suasana hati gadis heterochromia yang sedang badmood itu.

“Kesel gue!”

“Lo kenapa sih? Kayaknya lagi badmood banget.”

“Gak ada apa-apa kok!” sahut Kazuha sambil melangkahkan kedua kakinya yang ramping menuju tempat parkir motor.

“Cerita, Kaz. Masih ada waktu kok sampe jam 4. Yuk, gue traktir eskrim,” tawar Ami sambil mensejajarkan langkahnya dengan Kazuha. Mendengar hal itu, seketika mata Kazuha berbinar-binar.

“Beneran?”

“Iya.”

“Yaudah, kuy cabut!” ujar Kazuha bersemangat, membuat cowok berkacamata hanya tersenyum memaklumi.

—-<>—–

“Lo lagi mikir apa sih Kaz?” tanya Ami pada gadis ponytail yang masih asyik makan eskrim itu.

“Gue sebel Miiiii!!!” gerutu Kazuha sambil terus melahap eskrimnya.

“Dari eksrim pertama sampe ketiga ini, jawabanlo selalu ‘gue kesel’ lah, ‘gue sebel’ lah, kesel kenapa coba? Kalo lo gak kasih tau alasannya, gue gak mau beliin eskrim keempat,” ancam Ami.

Kazuha mendengus sebal, lalu pandangannya beralih ke jendela. Eskrim cup ditangannya sudah kosong.

“Kazuha?”

“Gue sebel. Masa’ gue dipanggil cabe Jepang?”

“Siapa yang manggil gitu?”

“Tuh, fans nya si kurus!”

“Emang kenapa mereka manggil gitu?”

“Karena gue temenan sama lo dan Mahesa. Dikiranya gue nge-gebet dua cowok sekaligus. Kesel gue!”

Ami hanya tertawa mendengar ocehan sahabatnya itu. Meskipun tidak melulu bermain bertiga, tetapi ada saja omongan para siswa tentang persahabatan mereka. Baik itu omongan positif ataupun negatif. Ami tidak terlalu ambil pusing, toh, di kelas ia masih berteman dengan teman-teman sekelasnya dan gak pilih-pilih. Begitupun Kazuha yang selalu akrab dengan para cewek di kelasnya dan Mahesa yang selalu nongkrong di kantin dengan anak-anak klub basketnya.

“Jangan ketawa!” bentak Kazuha yang membuyarkan lamunan Ami.

“Lo lucu sih, gitu aja dipermasalahin. Biarin ajalah, mereka cuma iri kok,” ujar Ami.

As usual, Ami emang selalu dewasa ya,” ujar Kazuha sambil tersenyum. Ami pun ikut tersenyum, lega melihat sahabatnya sudah kembali ceria.

“Gak juga. Kazuha yang selalu kayak anak kecil!” balas Ami. Keduanya pun tertawa.

Natsukashii ne….” gumam Kazuha pelan, tetapi masih bisa didengar Ami.

“Hah?”

“Nggak, itu artinya ‘kangen ya..’” jelas Kazuha. “Udah berapa lama ya kita sahabatan? Dari awal masuk SMA ya? Gak nyangka gue bisa deket sama kalian.”

Lagi-lagi Ami hanya tersenyum. Tidak seperti kedua sahabatnya, Ami lebih pendiam dan cenderung menjadi pendengar yang baik bagi kedua sahabatnya. Tak jarang ia selalu dianggap dewasa oleh keduanya.

“Lo yang pendiem, gue yang tomboi, Mahesa yang kebanyakan gaya. Lo IPA, gue IPS, Mahesa Bahasa, kok kita bisa dan masih akrab ya? Hahaha,” celoteh Kazuha lagi.

“Kaz, mabok eskrim?” tanya Ami.

“Enak aja, eskrim gak bikin mabok tahu?”

“Kok lo tiba-tiba ngoceh gitu?”

“Emang gak boleh?” tanya Kazuha sambil mendelik. Tak sengaja, kedua manik hijau birunya melihat jam dinding di sudut ruangan. Kedua jarum jam itu sudah menunjukkan pukul 4 kurang 5 menit.

“Mi, lo gak jadi les? Udah jam 4 kurang 5 loh.”

“Oh iya. Yaudah yuk cabut.”

“Duluan, gue masih mau disini. Gaya gravitasi kursi ini terlalu kuat,” canda Kazuha.

“Yakin nih ditinggal sendiri?” tanya Ami sebelum meninggalkan meja. Kazuha hanya mengangguk sambil tersenyum.

“Iterasshai, Ami kun.”

—<>—

“Lho, Kazuha?” sapa Mahesa begitu melihat Kazuha sedang bermain bersama kucing didepan gerbang sekolah. Seingatnya, gadis itu pergi dengan Ami beberapa jam yang lalu. Kenapa sekarang ia ada disini?

“Mahesa!” sahut Kazuha ketika melihat sosok pemuda tinggi kurus itu menghampirinya. “Udah selesai ngelatih basketnya?” tanya Kazuha sambil berdiri. Tak lupa ia menepuk-epuk telapak tangannya yang kotor.

“Udah kok. Lo belum pulang?”

“Belum, tadi gue pergi sama Ami. Trus Ami ada les, karena gue gabut, gue balik lagi ke sekolah.”

Mahesa menautkan alisnya. Heran dengan gadis yang ada di hadapannya itu.

“Trus, lo di sekolah ngapain?”

“Tadi ketemu Luna sama Valeria, trus kita ngobrol-ngobrol di kantin. Pas mereka udah dijemput, gue main sama kucing. Trus ketemu elo deh.”

Mahesa hanya geleng-geleng dengan tingkah gadis Jepang-Indo itu. Sudah pergi dari area sekolah, kenapa balik lagi? Mahesa saja malas kalau disuruh bolak-balik begitu.

“Ada acara Hes?” tanya Kazuha membuyarkan lamunan Mahesa.

“Nggak ada kok, kenapa emangnya?”

Bruk!

Belum sempat menjawab pertanyaan Mahesa, gadis yang bernama Kazuha itu sudah ambruk karena kehilangan kesadaran.

“Kaz! Kazuha!” panggil Mahesa seraya membopong Kazuha menuju UKS, berharap UKS masih buka di hari yang menjelang malam itu.

—<>—

 

TBC

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s