The Five Genius [Part 1]

the five genius

Main cast:

Shinichi Kudo : seorang detektif jenius dari Tokyo. Tinggi 174cm, golongan darah B, tanggal lahir 4 Mei. Keahliannya dalam sepak bola tidak bisa dianggap remeh. Andai ia tidak keluar dari klub sepak bola, ia bisa menjadi pemain timnas Jepang. Ayahnya, Yusaku Kudo, seorang penulis novel misteri yang sangat terkenal di dunia, sementara Ibunya, Yukiko Kudo, mantan aktris berbakat yang meraih berbagai penghargaan di seluruh Jepang. Kemampuan anailsisnya warisan dari Ayahnya, sementara sifat percaya dirinya warisan dari Ibunya.

Kaito Kuroba : seorang pencuri lihai yang selalu lolos dari kejaran polisi. Tinggi 174cm, golongan darah B, tanggal lahir 21 Juni. Keahliannya adalah menyamar dan bermain sulap. Memiliki wajah yang mirip Shinichi, sehingga ia selalu menyamar menjadi Shinichi ketika terdesak. Ayahnya bernama Touichi Kuroba, seorang pesulap terkenal di seluruh dunia, tewas akibat kecelakaan. Kaito tidak percaya kalau Ayahnya tewas karena kecelakaan, sehingga ia meneruskan jejak Ayahnya menjadi Kaito KID untuk menemukan siapa pembunuh Ayahnya.

Heiji Hattori : sama seperti Shinichi, ia juga merupakan seorang detektif SMA yang jenius, namun ia berasal dari Osaka. Tinggi 174cm, golongan darah AB. Keahliannya adalah seni beladiri kendo, dan ia merupakan atlet kendo terbaik di sekolahnya. Ayahnya adalah kepala kepolisian Osaka yang sangat disegani, Heizo Hattori. Kulitnya yang agak gelap merupakan warisan dari Kakeknya, karena kedua orangtua Heiji tidak ada yang berkulit gelap.

Shiho Miyano : seorang ilmuwan cerdas yang menciptakan obat aneh yang mampu membuat tubuh manusia menjadi kecil. Tinggi 170 dan bergolongan darah A. Ayahnya, Atsushi Miyano, merupakan seorang ilmuwan yang terobsesi membuat obat yang dapat  menghidupkan orang mati. Sifatnya dingin dan cuek membuatnya sulit bergaul.

Saguru Hakuba : dulu ia dikenal sebagai detektif SMA yang terkenal di London. Ia pindah ke Jepang untuk menangkap pencuri yang bernama spider, namun kini targetnya justru KID. Tinggi 174cm dan golongan darahnya A. Sama seperti Heiji, ia merupakan anak dari kepala kepolisian pusat di Tokyo. Cara bicaranya yang angkuh dan arogan membuat lawan bicaranya malas berdebat dengannya.

 

The story has begin….

 

“Kudo-kun, apa semua sudah siap?” tanya Shiho sambil masuk ke kamar Shinichi.

“Apalagi yang harus kubawa? Pakaian, handuk, peralatan mandi, laptop, ipad, ipod, handphone…”

“Kau ini! Sudah bawa ipad, bawa ipod pula! Chargernya jangan lupa. Kalau ketinggalan, aku tak mau ngasih pinjam!”

“Iya iya,” sahut Shinichi malas sambil mengambil charger laptop, handphone, ipod dan ipad di meja belajar. “Dasar pelit!”

Shiho hanya tersenyum penuh kemenangan, sementara Shinichi memasukan semua barang-barangnya ke dalam koper.

“Haft….. liburan musim panas, bukannya bersnang-senang dengan pergi ke pantai dan cuci mata—lihat cewek-cewek berbikini—malah dapat misi aneh!” gerutu Shinichi.

Plak!

Kepalan tangan Shiho sukses mendarat di kepala Shinichi.

“Dasar mesum!” gerutu Shiho. “Kapan lagi kita dapat undangan ke Okinawa. Harusnya kau bersyukur, bukan malah menggerutu seperti ini!”

“Kalau begitu, kau saja yang pergi, sepertinya kau lebih bersemangat.”

“Kau ini, biasanya kau selalu bersemangat kalau ada misi aneh.”

“Kalau liburan tidak. Kalau pas hari sekolah kan, aku bisa bolos.”

“Maumu! Sudah cepat selesaikan beres-beresmu, setelah itu kita pergi makan.”

“Iya Bu…”

Shiho pun meninggalkan kamar. Shinichi mengambil sepucuk surat diatas meja belajarnya. Surat undangan dari Saguru Hakuba untuk pergi ke Okinawa guna menghadapi suatu misi.

“Bukan cuma aku, bahkan Shiho pun juga diundang. Sebenarnya ini acara apaan sih? Shiho kan bukan detektif, kenapa dia diundang? Atau jangan-jangan, ini acara ulang tahun si Saguru anaknya inspektur Hakuba yang baru balik dari London itu. Kalau benar begitu, kan gak lucu.”

 

—<>—

 

“Hei Shiho, kau tahu kita harus kemana?” tanya Shinichi sambil mendorong koper. Shiho hanya celingukan, seperti mencari seseorang di bandara yang lumayan luas ini.

“Aku tidak tahu, tapi Hakuba-san bilang ia akan menjemput kita,” jelas Shiho. “Dia kemana ya?”

“Mana kutahu,” jawab Shinichi ogah-ogahan. Shiho hanya melirik sebal ke arah Shinichi.

“WOYYY KUDO!!!!” seseorang memanggil Shinichi.

”Sepertinya aku kenal suara ini,” pikir Shinichi. Iapun celingukan mencari asal suara itu. Shiho juga celingukan, tapi dia masih mencari sosok yang bernama Saguru Hakuba.

Kemudian pandangan Shinichi tertuju pada seorang laki-laki berkulit gelap yang memakai kaos oblong, snapback, dan celana jins. Dia melambai-lambai ke arah Shinichi dan Shiho. Di samping kanannya ada seorang laki-laki yang berwajah mirip Shinichi  yang memakai jaket biru, kaus putih dan celana jins biru. Sementara di samping kirinya ada seorang laki-laki berambut cokelat dan memakai baju serta celana cokelat. Tak salah lagi, mereka adalah Heiji, Kaito dan Saguru.

“Itu mereka,” Shinichi pun menarik Shiho dan segera menghampiri tiga orang yang melambai-lambai itu.

“Gak usah pake teriak-teriak dong, kayak anak kecil aja,” ujar Shinichi pada Heiji.

“Lagian, daritadi kita lambai-lambai, kalian gak nengok-nengok,” sahut Kaito.

“Lambai-lambai mana kelihatan? Sms kek, telpon kek,” kali ini Shiho yang protes.

“Kan aku udah bilang kalo nanti aku jemput,” kata Saguru.

“Kan ini kita udah jemput. Kalian lah yang sms.”

“Udah-udah, kok jadi pada berantem gini?” kata Heiji sok bijak. “Mending sekarang kita cari makan yuk, abis itu baru ke villa tujuan.”

“Yaelah si item, aku baru sampe udah ngajak makan,” sahut Shinichi. “Tapi, leh ugha lah.”

“Ngeledek tapi mau!” protes Heiji. Shinichi hanya terkekeh.

“Ada lagi yang masih harus kau jemput?” tanya Shiho pada Saguru.

“Tidak ada,” kata Saguru sambil memainkan kunci mobilnya. “Yuk makan. Nanti si item jadi rese’ kalo lagi laper.”

Shinichi, Shiho dan Kaito pun tertawa mendengar ocehan Saguru, sementara Heiji hanya memasang muka superbete.

 

—-<>—–

 

“Hakuba-san, memangnya kau mau buat acara apa sih?” tanya Shiho sambil memakan sushi pesanannya. Kami semua makan di restoran sushi yang agak mahal siang ini. Heiji yang minta. Katanya, dia butuh sushi mahal untuk mengembalikan moodnya yang hancur karena diledek. Saguru menyetujuinya. Shinichi, Shiho dan Kaito sih ikut aja. Toh, nanti Saguru yang bayar.

“Panggil Saguru aja gapapa, toh kita seumuran, gak usah pake san,” pinta Saguru. “Acaranya akan kuberi tahu nanti. Ini masih jadi rahasia.”

“Kau mau buat pesta ulang tahun di Okinawa?” tanya Shinichi.

“Bukan.”

“Lalu?”

“Rahasia.”

“Berapa orang yang kau undang?” kali ini Kaito yang bertanya.

“Hanya kita berlima.”

“EH??” teman-teman saguru pun memandang Saguru. Sementara yang dipandang hanya menangkat bahu.

“Jadi…. Aku satu-satunya perempuan?” tanya Shiho. Saguru hanya mengangguk.

“Gapapa kan Shiho, kau jadi cantik sendiri,” goda Kaito.

“Kaito, kau menyamar jadi cewek gih biar aku gak cewek sendiri,” saran Shiho.

“Yakali…………”

“Alhamdulillah…. Kenyang….” Celetuk Heiji sambil mengusap-usap perutnya yang agak buncit.

“Pantes daritadi diem, rupanya asyik makan,” ujar Saguru.

“Saguru, kasih bocoran misinya dong,” pinta Shinichi.

“Hmm… baiklah, aku cerita sedikit. Tujuanku mengumpulkan kalian adalah untuk membantuku menyelesaikan sebuah proyek baruku. Aku mengundang Shinichi dan Heiji, detektif SMA yang terkenal di timur dan barat. Lalu Kaito, si maling katro’ yang selalu tampil alay tapi bisa lolos dari polisi. Dan terakhir Shiho, si ilmuwan pembuat obat-obat aneh. Karena keunikan kalian, dan bakat-bakat kalian yang luar biasa, aku percaya kalian bisa membantuku,” jelas Saguru panjang pedek.

“Enak aja, katro’, alay, apanya?” protes Kaito.

“Ya begitulah,” sahut Saguru malas.

“Proyek apa yang lagi kau garap?” tanya Shiho penasaran.

“Rahasia. Kalian akan melihatnya nanti ketika kita sampai di villa.” Saguru pun tersenyum penuh misteri.

 

—-<>—–

 

“Ini villa pribadi keluargaku, selama liburan aku pakai untuk proyek baruku. Anggap aja seperti rumah sendiri,” kata Saguru sambil mengentikan mobilnya didepan sebuah villa besar.

“Sugoiii…. Villanya besar…” ujar Shinichi.

“Ada kolam renangnya gak?” tanya Heiji.

“Ada kok. Oiya, karena yang bisa dipakai hanya tiga kamar, selain Shiho, kita akan bagi dua orang untuk satu kamar,” jelas Saguru. “Heiji dengan Shinichi karena sama-sama detektif, sementara aku dengan Kaito, gak jelas sih apa persamaan kita.”

“Sama-sama alay, mungkin…” celetuk Shinichi.

“Bisa jadi,” tambah Heiji.

“Enak aja! Kaito yang alay, bukan aku!”

“Kok jadi aku yang di bully? Tadi kan kita bully si item?” tanya Kaito dengan tampang polos.

“Kasihan Heiji dibully mulu. Nanti semua kena bagian dibully kok,” ujar Shiho. “Kecuali aku, tentunya.”

“Cewek memang selalu benar…..” ujar Shinichi.

“Udah yuk turun, trus kita beres-beres,” ajak Saguru. Kami pun turun dari mobil dan membawa koper masing-masing, kemudian menuju kamar yang sudah ditentukan oleh Saguru.

 

—-<>—-

 

“Eh Heiji….” Kata Shinichi sambil rebahan di atas kasur.

“Kenapa?” Heiji pun nyusul Shinichi(?) setelah membuka kaosnya.

“Kok aku merasa ada yang aneh ya di villa ini?”

“Aneh kenapa?”

Shinichi tidak menjawab. Ia hanya memandang langit-langit kamar yang berwarna putih.

‘pasti ada sesuatu di villa ini. Pasti’

 

tbc…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s