Terserah

Asa menatap lapangan basket sambil sesekali melirik ponselnya. Sudah jam 16.00, tapi orang yang dia tunggu tak kunjung datang. Asa pun membuka aplikasi bbm dan melihat sebuah kontak bbm. Di layar ponselnya, tertera chat room dengan sebuah kontak yang bernama Nando. Asa pun mencoba mnegetik pesan untuk orang tersebut.

Masih lama, Ndo?

Sebelum meng-klik send, gadis itu membaca ulang pesan tersebut. Kemudian menghapus kalimat yang tadi diketiknya. Dia urung untuk mengirim pesan pada Nando yang tak lain adalah kekasihnya. Nando berjanji padanya untuk pulang sekolah bareng, namun karena ada tugas tambahan, Asa harus menunggu Nando di koridor sampai tugas Nando selesai. Ya, lebih baik menunggu daripada mengirim pesan.

“Sa, nunggu lama?” tanya Nando pada Asa yang tengah duduk di kursi panjang ditepi koridor sekolah sambil menatap lapangan basket. Asa menoleh dan tersenyum pada Nando.

“Nggak kok, Ndo,” jawabnya kalem sambil tersenyum.

“Beneran? Asa nggak marah?” tanya Nando sambil duduk disamping kekasihnya itu.

“Iya Nando sayang…” ujar Asa sambil menarik hidung Nando. “Tapi aku laper, Ndo.”

“Mau makan Apa? Aku yang bayarin deh, sebagai perintaan maafku,” ujar Nando.

“Yakin?”

“Iya, kamu meragukanku?”

“Enggak sih… tapi emang kamu ada uang?”

“Ada, mau bukti?” tanya Nando sambil mengeluarkan dompetnya. Asa tertawa kecil sambil mengacak-acak rambut kekasihnya yang dipotong model spike itu.

“Aku cuma bercanda, Ndo.”

“Tapi aku serius mau traktir kamu. Tapi di taman jajan aja ya, biar murah.”

“Dimanapun aku mau kok, yang penting kamu yang traktir,” ujar Asa sambil tertawa.

Nando pun tersenyum sambil memandang kekasihnya dengan penuh arti. “Yaudah yuk, ntar kemaleman.”

Asa mengangguk, seulas senyuman kembali terukir di bibirnya yang mungil. Kemudian sepasang kekasih itu berjalan menuju tempat parkir motor di sekolah.

—<>—

“Cieee kemaren abis jalan sama Nando ya?” ujar Firda pada Asa yang tengah asyik menggambar di bagian belakang buku tulisnya.

“Eh, tau dari mana fir?” sahut Asa kikuk sambil menatap Firda.

“Kemaren sore kan gue lagi kerkol di taman jajan sama Harry dan Sophie. Ehh, nggak sengaja ngeliat lo jalan berdua sama Nando. Trus kalian makan mi ayamnya Bang Jajang kan? Cieee…” cerocos Firda yang membuat Asa hanya dapat menggelengkan kepalanya.

“Kok lo lihat aja, sih?”

Firda hanya nyegir sambil memamerkan giginya yang putih bersih. Sejurus kemudian, dia menyadari sebuah gambar yang ada di buku Asa.

“Gambar apaan, Sa?” tanya Firda, kemudian dia mengambil buku tersebut dari meja Asa.

“Gambar Nando, jelek ya?”

“Ceilah Nando lagi…”

“Biarin, emangnya elo, masih waiting sama…”

Firda pun segera menutup mulut Asa. “Heh, jangan sebut disini! Bahaya!”

“Sa!” ujar Nando yang tiba-tiba duduk di kuris didepan Asa dan Firda.

“Ceilah ada Nando. Kayaknya gue harus…” sahut Firda kemudian bangkit dari posisinya.

“Mau kemana, Fir?” tanya Asa.

“Kantin, gue laper nih. Lagian gue udah ditunggu Harry disana. Bye.”

Belum sempat Asa membalas, Firda sudah pergi keluar kelas.

“Ada apa, Ndo?” tanya Asa sambil menatap Nando.

“Ntar kamu sibuk nggak?”

Not to all, why?”

“Ceilah Asa sok bisa bahasa inggris nih,” celetuk Nando sambil memainkan pulpen Asa.

“Udah gak usah basa-basi, Ndo. Kamu dateng kesini karena ada perlu apa?”

“Gini, Sa…” ujar Nando sambil terus memainkan pulpen yang ada didepannya. “Ntar pulang sekolah aku mau main ke rumahmu boleh? Sekalian ajarin aku Bahasa Inggris, kamu kan, jago Bahasa Inggris.”

“Huh, tadi kamu bilang aku sok bisa!” celetuk Asa sewot.

“Yee Asa sayang… aku Cuma bercanda kok. Ajarin aku yaaa…” wajah Nando memelas. Melihat wajah kekasihnya yang seperti itu, Asa tak dapat menahan diri untuk tertawa.

“Kok ketawa?” tanya Nando heran.

“Abis mukamu tuh melas banget! Aku kan, jadi pengen ketawa,” ujar Asa setelah tawanya reda.

“Huh, yaudah. Pokoknya ntar sore kamu kudu mesti wajib ajarin aku Bahasa Inggris. Oke?”

Asa mengangguk setuju. Sebelum dia sempat mengeluarkan kata-katanya, Nando sudah pergi keluar kelas. Asa hanya geleng-geleng kepala, kemudian melanjutkan gambarnya yang tadi sempat tertunda.

—<>—

Seperti biasa, Asa menunggu Nando di kursi panjang dipinggir koridor utama SMA 77 sambil menatap lapangan basket. Asa dan Nando memang tidak sekelas, Asa di kelas XI IPS 1, sementara Nando di kelas XI IPA 1. Oleh karena itu, Asa selalu menunggu Nando untuk pulang bersama. Kadang Asa yang main ke rumah Nando, kadang pula Nando yang main ke rumah Asa. Oleh karena itu, mereka dijuluki sebagai pasangan paling serasi di SMA 77.

“Asa!” terdengar sebuah suara memanggilnya. Refleks, gadis berambut bergelombang sebahu itupun menoleh kearah sumber suara.

“Marcel… gue kira Nando,” sahut Asa. Cowok yang bernama Marcel itupun segera duduk disamping Asa.

“Nando bilang suruh baca bbm dia,” ujar Marcel. Asa pun segera mengeluarkan smartphone-nya dari saku kemejanya yang putih bersih. Ada sebuah pesan bbm masuk. Dari Nando.

Nando

Sa, sorry nih, aku ada latihan nasyid. Minggu depan kan, ada lomba nasyid.

Asa tersenyum pahit, kemudian memasukan kembali smartphone-nya kedalam saku kemejanya.

“Trus Nando bilang…” ujar Marcel sambil berdiri. “Dia bakal pulang malem. Kayaknya, lo harus pulang duluan deh. Dia belum sempet nge-chat gitu, karena lo gak baca bbm dia tadi.”

“Serius, Cel?” tanya Asa tak percaya.

“Iya, gue juga bakal pulang malam, Sa. Gue kan, juga latihan nasyid bareng dia.”

Bibir mungil Asa maju 5cm. kemudian tersenyum semanis mungkin kepada Marcel. “Makasih ya Cel, atas infonya.”

“Iya sama-sama Sa. Yaudah gue ke masjid dulu ya, udah ditunggu Nando, Arsyan sama Ahmad buat nasyid nih,”

“Iya Cel. Salam buat Nando ya,”

Marcel mengangguk mengerti, kemudian pergi menuju masjid. Meninggalkan Asa yang kesal atas kelakuan Nando.

“Ish… dasar Nando jelek! Awas aja nanti!”

Mau tak mau Asa harus pulang naik angkot. Sebenarnya sih, naik angkot bukan masalah, toh sebelum dia berpacaran dengan Nando dia juga sering pulang naik angkot. Yang jadi masalahnya adalah, entah uang sakunya cukup atau tidak untuk naik angkot.

“Asa!” panggil seseorang saat Asa melewati gerbang SMA 77. Asa pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke sumber suara. Ternyata yang memanggilnya Dika, teman satu kelasnya.

“Pulang sendiri?” tanya Dika sambil mematikan motor Ninjanya.

“Iya.”

“Nando mana?”

“Latihan nasyid.”

“Oh… mau bareng nggak? Kebetulan rumah kita kan searah.”

Mendengar hal itu, Asa bagai tersiram air setelah berjam-jam tidak minum di daerah gurun. Asa pun mengangguk cepat. Tanpa ditawari dua kali, dia segera naik ke jok belakang motor Dika. Sejurus kemudian motor Ninja itupun melesat keluar dari gerbang SMA 77.

—<>—

Terserah kali ini sungguh aku takkan peduli
Ku tak sanggup lagi jalani cinta denganmu

Smartphone Asa berdering ketika dia sedang belajar di malam hari. Di layar ponselnya, tampak foto Nando dan deretan nomor ponsel Nando. Segera Asa menjawab telepon tersebut.

“Halo, kenapa Ndo?”

“Kamu tadi pulang sama Dika ya?!” bentak Nando diujung telepon. Membuat Asa harus menjauhkan smartphone-nya dari telinganya.

“Kamu kenapa sih, Ndo? Tiba-tiba kok ngebentak gitu?”

“Kan aku udah bilang, tungguin aku! Aku mau minta diajarin sama kamu!”

Mendengar kalimat Nando, Asa merasa heran. Bukankah Nando yang mengatakan kalau dia akan pulang malam? “Ndo, kata Marcel, kamu latiha nasyid sampai malam kan? Aku harus nunggu kamu sampe malam gitu?”

“Kenapa kamu nggak konfirmasi dulu sama aku? Bbm aku aja cuma di read sama kamu!”

“Tapi bener kan, kamu pulang malam?!” sengit Asa tak mau kalah.

“Nggak tuh! Aku sengaja izin pulang cepet. Nggak tahunya aku malah liat kamu boncengan sama Dika. Oh aja!”

“Nando, jangan ngambek gitu, aku kan cuma…”

“Cuma apa? Cuma mau PDKT sama Dika? Oh…”

“Ndo,aku bisa jelasin…”

“Nggak ada yang perlu dijelasin!” sentak Nando, kemudian mematikan teleponnya. Membuat Asa hanya dapat melongo, dan sebutir airmata mengalir di pipinya yang chubby.

“Nando, kamu kenapa sih…”

—<>—

“Kenapa lo, Sa? Dari tadi pagi murung aja,” tanya Firda. Sementara yang ditanya bukannya menjawab tapi justru mengaduk-aduk bakso pesanannya. Melihat hal itu, Harry—sahabat Asa dan Firda—segera memakan satu bakso milik Asa.

“Buat lo aja, Har. Gue udah nggak nafsu,” ujar Asa sambil menyerahkan mangkuk baksonya pada Harry. Dengan semangat Harry menyambut mangkuk bakso tersebut, sementara Firda semakin menatap Asa dengan heran.

“Lo kenapa, sih?”

“Nando, Fir…” ujar Asa dengan tatapan kosong. “Semalem gue berantem sama Nando…”

“Hah?! Lo berantem sama Nando?!” ujar Firda dan Harry bersamaan. Sejurus kemudian, Harry justru tersedak bakso. Firda pun segera memberikan segelas es teh manis miliknya.

“Lo berantem kenapa sama Nando, Sa? Kayaknya, kemaren kalian baik-baik aja kok,” kata Firda sambil ikutan memakan bakso pemberian Asa.

“Kemaren kan gue nungguin Nando pulang nasyid karena dia bilang dia mau minta diajarin sama gue. Tapi kata Marcel, anak nasyid bakal pulang malam. Yaudah akhirnya gue pulang sendiri. Trus si Dika ngajakin pulang bareng, yaudah gue terima ajakan Dika. Nah semalem Nando nelpon gue sambil marah-marah gitu…” jelas Asa panjang pendek.

“Mungkin Nando cemburu kalo lo pulang bareng Dika,” celetuk Harry.

“Mungkin… Nando bilang, ‘kenapa nggak konfirmasi dulu sama gue,’ tapi gue nggak yakin kalo dia marah karena itu,”

“Nah mungkin karena itu Nando jadi marah sama lo,” ujar Firda.

“Tapi Fir, dulu, pas gue jalan sama Ridho dan nggak bilang-bilang sama dia, dia nggak marah. Nando sekarang berubah…”

“Berubah gimana?” tanya Harry.

“Berubah gitu, tiap ada masalah kecil langsung dibesar-besarin, ada trouble selalu gue yang salah. Nggak kayak dulu. Dulu Nando pengertian, nggak pernah nyalahin gue, dan selalu mau dengerin penjelasan gue sebelum nyalahin gue. Tapi sekarang…” Asa tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Di tenggorokannya terdapat sebuah tangis yang tertahan. Matanya berkaca-kaca. Kedua sahabatnya itu hanya menatapnya iba.

“Sejak kapan Nando jadi berubah kayak gitu?”

“Sebulan yang lalu, Har. Iya sih kadang kita kelihatan kayak lagi nggak ada trouble, tapi kalo di telepon…” Asa menghela napas panjang. “Dia selalu ngebentak gue, marahin gue, nyalahin gue, nggak pernah mau denger penjelasan gue…”

“Lo pernah ngerasa nyinggung perasaan dia nggak?”

“Nggak tau Fir,”

Asa pun terdiam. Sementara Harry dan Firda hanya saling melempar pandang.

—<>—

Bel pulang pun berdering diseluruh penjuru SMA 77. Tanpa buang-buang waktu lagi, Asa segera melangkah cepat menuju kelas XI IPA 1. Dia ingin meminta penjelasan dari Nando atas perubahan sikap Nando padanya. Sebelum keluar kelas, dia pun sempat mengirim pesan bbm kepada Nando.

Nando

Ndo, aku mau ngomong sama kamu.

Cling! Cling! Ponselnya berdering. Ada sebuah pesan bbm masuk dari Nando.

Nando

Tunggu di tempat biasa ya, aku lagi piket kelas.

Namun, Asa tak mau menunggu di kursi panjang koridor. Asa semakin melebarkan langkahnya menuju kelas Nando yang letaknya agak jauh dari kelasnya. Sesampainya didepan kelas Nando, perasaannya semakin menjadi.

“Nando ada, Cel?” tanya Asa pada Marcel yang sedang mengangkut sampah.

“Nggak ada,”

“Lho, Nando bilang dia lagi piket?”

“Jadwal piket Nando bukan hari ini, tapi kamis,” beritahu Marcel. Mendengar hal itu, Asa kaget setengah mati. Teganya Nando membohonginya.

“Trus lo tahu nggak Nando kemana?”

“Dia ke kebun belakang, sama Jelita,”

Jleb! Asa seperti dijatuhkan dari lantai 3 di sekolahnya. Setelah berterima kasih pada Marcel, Asa pun bergegas pergi menuju kebun belakang. Bukannya tak mungkin kalau Asa menuduh Nando, toh, sikap Nando yang berubah padanya sudah menjadi bukti yang sangat kuat.

“Aku nggak bisa kayak gini terus, Ndo…” terdengar suara seorang perempuan begitu Asa tiba di kebun belakang sekolah. Asa tahu suara itu. Suara itu milik Jelita, teman sebangkunya waktu kelas X.

“Tapi Jel, kita juga nggak mungkin kan terang-terangan soal hubungan kita? Ntar Asa gimana?”

Sekali lagi, Asa merasa dijatuhkan dari pesawat di ketinggian 6km diatas langit. Dadanya sesak. Dia memutuskan untuk terus menguping.

“Makanya, kamu pertahanin aja hubungan kamu sama Asa. Kalian kan, best couple. Lupain aku aja, Ndo…”

“Tapi Jel, aku sayang sama kamu. Tapi aku juga sayang sama Asa. Aku nggak bisa milih salah satu diantara kalian…”

“Tapi aku nggak bisa kayak gini terus! Aku nggak mau jadi yang kedua!”

“Jel, tenang Jel, tenang…” ujar Nando, dan Asa melihat… Nando merangkul Jelita! Sesak didadanya tak dapat ditahan lagi. Namun sekuat tenaga, Asa berusaha menahan tangisnya. Selama 6 bulan berpacaran dengan Nando, tak pernah sekalipun Nando merangkul Asa.

“Oh, jadi begitu!” teriak Asa, membuat Nando dan Jelita segera menoleh.

“Asa… sejak kapan?”

“Asa… maaf..”

“Jadi gitu, Ndo? Jadi sikapmu ke aku berubah karena kamu… dan kamu selalu nyuruh aku nunggu di koridor karena kamu lagi mau…” Asa tak sanggup menahan tangisnya. Dia segera berlari meninggalkan mereka.

“Sa! Tunggu! Aku bisa jelasin semuanya!” Nando pun mengejar Asa. Namun Asa tak peduli. Dia terus berlari dan segera masuk kedalam toilet perempuan. Dia yakin Nando tak akan mengejarnya kesana.

Didalam toilet, Asa menangis sejadi-jadinya.

—<>—

Asa menatap kedua sahabatnya dengan tatapan kosong. Sesekali Firda berusaha menyuapi Asa dan Harry mencoba menghibur Asa, tetapi Asa tetap tak menggubrisnya. Yang ada di pikirannya hanya satu. Kenapa Nando tega sama gue?

“Makan, Sa. Kata nyokap lo, udah 2 hari kan lo nggak makan?” kata Firda sambil memberikan sesendok nasi ke mulut Asa. Namun tangan Asa menepisnya pelan.

“Makan Sa, ntar lo sakit,” ujar Harry.

“Emang udah sakit kok Har. Udah dua hari kan gue nggak masuk sekolah.”

“Makan Sa, biar demam lo turun,” ujar Firda lagi sambil mencoba menyuapi Asa.

“Apa perlu gue telepon Nando supaya Nando nyuapin lo? Lo harus makan, Sa. Demam lo tinggi banget.” Harry pun menyentuh kening Asa yang terasa panas. Asa hanya menggeleng lemah.

“Sebelum lo demam kayak gini, lo emang ada masalah apa? Biasanya kan, penyebab lo demam karena lo lagi banyak pikiran.”

Asa menatap Firda dan Harry bergantian, kemudian airmatanya kembali mengalir dari matanya yang memerah. Rambut wavy sebahunya tampak kusut. Suhu tubuhnya pun mencapai 41 derajat celcius. Itu artinya, Asa sedang banyak pikiran.

“Nando… ternyata dia…” ujar Asa pelan, tapi Firda dan Harry masih sanggup mendengarnya. Kemudian Asa menceritakan kejadian yang dia lihat dan dia dengar 3 hari yang lalu di kebun sekolah. Selama bercerita, airmata Asa tak henti-hentinya mengalir. Sampai Asa selesai cerita, Firda dan Harry hanya saling melempar pandang. Kemudian dia menatap Asa dengan iba.

—<>—

Setelah Firda dan Harry pulang, Asa menatap taman dirumahnya melalui jendela kamarnya dengan pandangan kosong. Pikirannya melayang ke masa lalu. Masa dimana dia belum menjadi kekasihnya Nando.

Flashback…

“Meja ini kosong?” tanya seorang cowok pada Asa yang sedang asyik memakan kebab pesanannya.

“Kosong kok,”

Tanpa bertanya lebih jauh, cowok itu segera duduk dihadapan Asa. Kantin saat itu sedang penuh, dan hanya ada beberapa bangku kosong di meja yang Asa tempati, padahal Asa hanya duduk sendirian. Harry sedang sibuk menyalin pr dikelas, sementara Firda izin tidak masuk sekolah. Jadi, mau tak mau Asa harus membagi kursinya dengan cowok itu.

“Nama lo siapa?” tanya cowok itu tiba-tiba sambil memakan nasi uduk pesanannya.

“Asa, lo?”

“Nando.”

Pertemuan singkat itu telah membuat keduanya saling jatuh cinta. Hingga akhirnya mereka jadi sering meluangkan waktu berdua. Nando sering datang ke kelas XI IPS 1, begitupun Asa yang juga sering datang ke kelas XI IPA 1. Hingga pada suatu hari…

“Ndo, kita mau kemana?” tanya Asa pada Nando. Saat itu mereka sedang berjalan berdua ditaman kota.

“Ikutin aja,” ujar Nando singkat. Kemudian mereka berjalan menuju sebuah danau. Asa heran kenapa banyak sekali mawar disekitar danau. Tiba-tiba, entah sejak kapan, Nando pun mulai duduk ditepi danau sambil menghadap Asa. Dia pun menyanyikan lagu “Dealova” sambil memainkan gitar.

“Kau seperti nyanyian dalam hatiku yang memanggil rinduku padamu… kau seperti udara yang kuhela, kau selalu ada…”

“Ndo, ini…”

“Sa, sebenernya, udah lama gue suka sama lo, dan… mungkin ini saat yang tepat. Intinya, would you be my girlfriend?”

Asa merasa terkejut mendapat surprise yg unpredictable. Dia pun tersenyum malu sambil menyembunyikan wajahnya dengan saputangan. “Iya Ndo, aku mau.”

Flashback end…

“Asa…” seseorang membuyarkan lamunan Asa. Asa pun mengalihkan pandangannya. Tampak Nando sedang berdiri di ambang pintu kamarnya.

“Nando… ngapain kamu kesini?”

“Sa, udah dua hari aku ke kelas kamu, tapi kamu nggak pernah masuk. Dan tadi aku dapet bbm dari Harry kalo kamu demam, bener itu?”

Asa tak menjawab. Dia kembali mengalihkan pandangannya kea rah taman. Nando pun segera menghampiri Asa dan duduk disamping Asa.

“Putus…” ujar Asa ditengah hembusan nafasnya.

“Eh?”

“Aku bilang, kita putus…”

“Kenapa Sa? Kenapa kamu tiba-tiba bilang gitu?”

“Karena…” Asa menghela napas panjang. “Aku udah nggak sanggup lagi, Ndo. Aku emang cinta sama kamu, tapi nggak gini. Aku nggak kuat kamu bohongin terus. Dimana arti kesetiaan, Ndo, kalo Cuma kata-kata aja yang keluar dari mulut kamu, bukan hati kamu,”

“Tapi kenapa harus putus, Sa?” tanya Nando yang masih tak percaya.

“Udah jelas ini yang kamu mau. Kamu udah bohongin aku, kamu udah sakitin aku, kamu pacaran kan, sama Jelita? Nggak usah ngelak, aku udah tahu semua. Kenapa dulu kamu nggak jujur? Aku lebih seneng kalo kamu jujur, aku lebih seneng kalo Jelita kamu jadiin yang kedua. Toh itu hak kamu,”

“Emang kalo kamu aku duain, kamu nggak marah?”

“Selama kamu jujur, aku nggak marah. Kalo kamu pacaran seperti poligami, nggak apa-apa. Asal kamu jujur sama kamu, nggak ngumpet-ngumpet gini. Apalagi sampe jutekin aku, marah-marah nggak jelas sama aku…”

Nando terdiam, Asa pun terus menatap taman. “Terserah kamu deh mau gimana, aku udah nggak peduli lagi. Aku Cuma mau kita putus. Percuma dipertahanin, kalo kamu selalu bikin aku sakit.”

“Maaf, Sa…”

“Udah aku maafin kok, Ndo.”

“Kalo dimaafin, kenapa mutusin aku?”

“Aku udah bilang berkali-kali, aku nggak mau kamu sakitin lagi. Makasih ya Ndo 6 bulannya. Aku harap kamu langgeng sama Jelita, jangan sakitin dia kayak kamu nyakitin aku.”

“Sa…”

“Maaf Ndo, kamu pulang aja. Biarin aku sendiri dulu,”

Nando pun menurut, kemudian beranjak dari kamar Asa. “Cepet sembuh ya, Sa. Maaf gara-gara aku, kamu jadi demam begini.”

“Nggak apa-apa, Ndo. Hati-hati dijalan.”

Nando menangguk, kemudian berjalan keluar dari kamar Asa. Sementara itu, Asa kembali menatap taman sambil menangis. Airmatanya lebih deras dari sebelumnya.

Terserah kali ini, sungguh aku tak sanggup lagi, Ndo… Kamu bisa ngerti, kan?

Tamat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s