Pemuja Rahasia

Kuawali hariku dengan mendoakanmu agar kau selalu sehat dan bahagia disana
Sebelum kau melupakanku lebih jauh
Sebelum kau meninggalkanku lebih jauh

Lantunan lagu pemuja rahasia yang dipopulerkan oleh Sheila on 7 terdengar dari sebuah music player disebuah laptop berwarna merah dengan volume paling kecil. Sesosok gadis berusia 20 tahun tampak memandang langit sore dari jendela kamarnya. Gadis itu tersenyum kecil, kemudian melirik sebuah foto yang ada di meja—tepat disamping laptop tersebut— di bagian bawah bingkai foto tersebut, terdapat sebuah tulisan “Asa-Ridho. Foto sewaktu kelulusan.” Itu adalah foto dirinya, bersama seorang pemuda pujaannya sewaktu dia masih duduk dikelas 2 SMA. Gadis bernama Asa itu tersenyum, kemudian kembali menatap langit sore. Pikirannya kembali melayang, disaat dia masih duduk dikelas 2 SMA.

4 tahun yang lalu…

Pukul 6.15 tepat ketika Asa menjejakan kakinya di pagar SMA 77. Gadis itu berjalan cepat menuju koridor, dan sesekali membalas sapaan teman-temannya yang kebetulan berpapasan dengannya. Dengan tas ransel yang memberati tubuhnya,Asa berjalan dengan semangat menuju kelasnya.

“Sa!”

Terdengar seseorang tengah memanggil namanya. Gadis berkacamata dan berambut pendek-sebahu itupun segera menghentikan langkahnya. Diapun segera membalikan badan, mencari siapa pemilik suara yang memanggilnya itu.

Asa salah tingkah begitu tahu siapa yang baru saja memanggilnya. Seorang cowok tinggi, berkulit kuning langsat dan berambut cepak segera menghampirinya. Ketika jarak mereka tak kurang dari 1 meter, cowok itu hanya tersenyum.

“Tumben jam segini udah dateng,” ujar cowok itu. Melihat senyumnya yang begitu manis dan gayanya yang cool, Asa semakin menjadi salah tingkah.

“Yaa udah dong. Aku kan, biasa dateng jam segini,” ujar Asa sekenanya. “Emang ada perlu apa, Ridho?”

Cowok yang bernama Ridho itu melebarkan senyumannya. Membuat Asa semakin berkeringat dingin. Bagaimana tidak? Sudah dari awal masuk SMA Asa menyukai cowok tersebut. Selain wajahnya yang bisa dbilang ganteng, Ridho juga pandai dalam berbagai macam mata pelajaran. Bahkan, Ridho juga sanggupp menginstall ulang program laptop Asa yang terkena virus. Itu yang membuat Asa semakin mengagumi sosok Ridho.

“Gak apa-apa, kok,” ujar Ridho membuyarkan lamunan Asa. “Cuma mau nanya, semalem matematikanya udah bisa?”

“Oh, bisa kok. Makasih ya Ridho.”

“Sama-sama.” Ridho tersenyum, kemudian pergi meninggalkan Asa yang menatap kepergiannya sambil membenarkan letak kacamatanya.

“Ridho, oh Ridho. Emang lo bener-bener Mr Perfect deh.”

—<>—

“Eh, udah lihat mading bulan ini, belum?”

“Belum? Kenapa?”

“Masa’ ada yang nitip salam ke Kak Ridho. Kata-katanya so sweet banget lagi. Kyaaa! Aku jadi iri!”

Tanpa sengaja Asa mendengar percakapan beberapa adik kelas saat dia sedang makan di kantin. Tak salah lagi, pasti pesan titip salam miliknya dimuat di mading minggu ini. Tanpa sadar, Asa tersenyum-senyum sendiri.

“Kenapa, Sa? Senyum-senyum tijel gitu?” ujar Nando, sahabatnya yang duduk didepannya.

“Lo denger percakapan adik kelas tadi nggak, Ndo?”

“Percakapan apa? Ngomongin apa? Gue ganteng?” ujar Nando sambil bergaya narsis. Asa pun menatap sebal pada Nando.

“Dih? Pede gila lo!” sentak Asa sambil menendang kaki Nando, membuat cowok itu meringis menahan sakit. Cewek, tapi tenaganya kayak kuproy, pikir Nando.

“Gak usah pake nendang bisa keleuus..” celetuk Nando. “Emang omongan apaan? Gue gak begitu merhatiin. Secara, kantin kan, lagi rame-ramenya. Jadi banyak omongan orang yang gue denger.”

“Lo itu ngomong apaan sih, Ndo? Ruwet gitu deh.”

“Hehehe, yaudah ceritain ke gue apa yang tadi lo denger, sampe bikin lo senyum-senyum gak jelas kayak tadi.”

“Tadi gue denger, di mading ada tisam buat Ridho. Kayaknya, itu tisam punya gue deh.”

“Hah? Tisam buat Ridho? Kapan lo ngirim? Dan lo titipin ke siapa?”

“Gue titip ke Cita, dia kan anak eskul mading. Minggu lalu Cita ngirim broadcast via bbm, siapa aja yang mau titip salam buat dipajang di mading. Nah gue nitip deh buat Ridho,” jelas Asa panjang pendek.

“Deuh Ridho lagi. Masih gak bosen nungguin dia?” gerutu Nando sambil memakan kebabnya. Asa hanya menggeleng sambil tersenyum.

“Tapi lo harus siap-siap sakit hati, Sa. Yang suka sama Ridho kan bukan cuma lo. Tapi ribuan cewek disini,” nasihat Nando.

“Iya Ndo, gue ngerti,” ujar Asa sambil bangkit dari duduknya.

“Mau kemana, Sa?”

“Mading. Mau mastiin itu beneran tisam gue atau enggak. Mau ikut nggak?”

“Enggak Sa. Gue masih mau makan kebab gue. Belum habis nih.”

Asa hanya mengangkat bahu, kemudian pergi meninggalkan sahabatnya itu.

—<>—

Majalah dinding SMA 77 terletak di samping ruang tata usaha, tepat diujung koridor utama SMA 77. Lokasi mading itu sangat strategis, sehingga siapa saja yang lewat pasti berhenti sejenak untuk membacanya. Entah hanya sekedar membaca artikel, atau iseng membaca rubik “titip salam” yang merupakan rubik paling laris dibaca oleh siswa-siswi SMA 77. Mereka hanya iseng membaca rubik tersebut, siapa tahu ada nama mereka yang nyasar disana.

Asa mencari-cari nama Ridho di rubik “titip salam” tersebut. Matanya yang bening dan dilindungi oleh kacamata berbingkai merah itu asyik membaca salam-salam yang lain, sampai akhirnya matanya tertuju pada sebuah pesan.

To : Ridho
Hei, apa kabar? Semoga kamu lagi baik-baik aja ya. Jaga selalu kesehatanmu

From : your secret admirer

Bingo! Tepat dugaan Asa, pesan tersebut adalah miliknya. Asa pun tersenyum-senyum sendiri saat membaca pesan tersebut.

“Ridho! Lihat mading deh. Tadi pagi gue lihat ada nama lo disitu,” terdengar suara seorang murid cowok dari arah ruang kelas XI IPA 3. Asa pun menoleh kesana. Tampaklah Marcel, Dika, Arsyan dan… tak lain tak bukan adalah Ridho. Mereka sedang berjalan menuju mading. Sontak Asa segera berlari dan duduk di kursi dipinggir koridor tak jauh dari mading.

“Mana?” tanya Ridho ketika 4 sekawan itu telah sampai di mading. Dari tempatnya, terdengar percakapan empat sekawan itu sehingga Asa memutuskan untuk menguping pembicaraan mereka.

“Ini,” ujar Dika sambil menunjuk salah satu potongan kertas. Kertas yang ditunjuk Dika adalah pesan dari Asa.

“Ceilahh Ridho, ternyata lo punya penggemar rahasia, ya?” ujar Arsyan sambil menepuk-nepuk pundak Ridho.

“Lo ganteng sih, Dho,” celetuk Marcel.

“Kira-kira, siapa ya penggemar rahasia lo,” tambah Dika. Ridho hanya diam dan memperhatikan pesan yang ditujukan padanya.

“Gak tahu. Cabut ke kantin yuk, gue laper,” ujar Ridho sambil menepuk pundak Dika. Empat sekawan langsung pergi meninggalkan mading dan melewati tempat Asa duduk. Asa memperhatikan Ridho dengan saksama. Layaknya tatapan seorang fans kepada idolanya.

—<>—

“Sa! Lagi ngapain? Gak olahraga?” ujar Nando sambil menepuk pundak Asa yang sedang asyik dengan buku gambarnya.

“Gue udah selesai pengambilan nilainya. Mumpung lagi free time, gue gambar aja,” jawab Asa sambil terus menggambar. Nando pun memutuskan untuk duduk ditepi lapangan futsal, disamping Asa.

Nando memperhatikan Asa dengan serius. “Gambar apaan, Sa?”

“Ridho lagi main futsal,” jawab Asa yang masih asyik menggambar.

Nando pun mengalihkan pandangannya ke lapangan futsal. Pengambilan nilai praktik futsal telah usai, namun masih ada beberapa anak laki-laki kelas XI IPS 1—teman sekelas Nando dan Asa—yang masih asyik bermain futsal. Sekedar iseng untuk mengisi waktu jam olahraga yang masih tersisa satu jam pelajaran lagi. Beberapa anak perempuan sudah berkumpul di kantin untuk bergosip, namun Asa memilih untuk tetap berada di tepi lapangan. Untuk apa lagi, kalau bukan mengeceng Ridho.

“Ridho lagi,” ujar Nando bete.

“Biarin. Lo nggak ikutan main futsal, Ndo?”

“Udah tadi, cuma guelihat lo sendirian aja. Jadi posisi gue digantiin sama Dudin.”

“Oh,” ujar Asa sambil terus memoles buku gambarnya dengan pensil. 15 menit kemudian Asa berhenti. Membersihkan bukunya dari sisa penghapus, kemudian menutup bukunya.

“Udah selesai, Sa?” tanya Nando.

“Udah.”

“Mau ke kelas?”

“He’eh. Yuk,” ajak Asa sambil bangkit. Nando pun mengikuti. Kemudian mereka berdua segera menuju kelas mereka, kelas XI IPS 1 yang ada di lantai 2.

—<>—

“Nando…” bisik Asa pada Nando yang sedang asyik mengisi lks Bahasa Indonesia. Kebetulan Asa dan Nando duduk satu bangku.

“Kenapa?” ujar Nando sama pelannya. Takut kepergok oleh Bu Syukriyah kalau mereka mengobrol.

“Boleh minta tolong gak? Kalo nggak ngerepotin,” ujar Asa.

“Tolong apa? Insya Allah nggak ngerepotin kok.”

“Nitip ini, buat Ridho,” ujar Asa sambil menyerahkan lipatan kertas pada Nando. Nando pun menerima kertas tersebut sambil menatap Asa heran.

“Ini apaan?”

“Gambar Ridho pas pelajaran olahraga tadi.”

“Oh, oke oke. Ntar gue kasih ke dia.”

“Tapi jangan bilang kalau itu dari gue, Ndo.”

“Kenapa?”

“Takut ketahuan. Cukup lo aja yang tahu kalo gue itu penggemar rahasianya dia. Oke?” ujar Asa sambil mengalihkan pandangannya ke sebuah meja yang ada didekat jendela. Tampak sesosok siswa sedang asyik mengerjakan tugas di lks. Siswa itu adalah Ridho.

“Trus, gue bilang dari siapa, dong?”

“Dari secret admirer aja. Tapi jangan bilang kalo itu gue. Ok?”

Nando pun mengangguk mengerti, kemudian dia memasukan lipatan kertas tersebut kedalam saku kemeja putihnya. Sementara itu, sambil mengerjakan lks, Asa tampak sesekali memperhatikan Ridho dengan ekor matanya. Jarak mejanya dengan meja Ridho hanya terpaut dua barisan. Sama-sama duduk ditempat kedua. Asa tersenyum kecil.

—<>—

Asa berjalan lunglai saat keluar dari gerbang SMA 77. Pandangannya tertuju pada daun-daun kering yang berguguran sambil terus memeluk buku geografi dan dan akuntansinya. Sesekali Asa menghela napas panjang.

“Nando jelek!” umpatnya sambil terus berjalan. “Tega banget dia ninggalin gue… nyebeliin!”

5 meter lagi Asa sampai di jalan raya. Namun jarak 5 meter terasa berat baginya. Terlebih kata-kata Nando masih terngiang dipikirannya.

“Sorry Sa, gue gak bisa nganter lo pulang kali ini. Lo pulang naik angkot ya. Gambar lo udah gue kasih ke Ridho kok,” ujar Nando sambil menstater motornya. Sejurus kemudian, dia memacu motornya keluar dari tempat parkir SMA 77. Meninggalkan Asa yang menggerutu sebal.

“Nandooooo!!! Awas aja besok!”

Tiin… tinn…

Bunyi sebuah kalkson sepeda motor terdengar dari arah belakang. Asa merasa cuek, sebab dia sudah berjalan di trotoar. Ketika tangannya hendak melambai untuk memberhentikan angkot, sebuah suara memanggilnya.

“Sa! Asa!”

Asa pun menoleh kearah sumber suara. Tampak Ridho dengan motor matic merahnya berhenti tak jauh darinya. Asa pun berbalik arah dan berjalan menghampiri Ridho.

“Kenapa, Dho?”

“Mau bareng?” tawar Ridho sambil menyerahkan helm pada Asa. “Tadi Nando bilang, lo pulang sendiri ya?”

Asa mengangguk sambil memeluk buku-bukunya. “Nando ninggalin gue.”

“Ninggalin?” tanya Ridho. “Nando bilang dia ada urusan. Makanya dia nyuruh gue buat nganter lo.” Ridho pun menyodorkan helm pada Asa. “Nih, pake.”

Asa pun tersenyum. Dia pun menerima helm yang diserahkan Ridho. Setelah naik ke boncengan motor Ridho, motor matic itupun segera melaju pergi menuju rumah Asa.

—<>—

Flashback end…

Suara adzan magrib menyadarkan lamunan Asa. Dia pun segera menutup gordain jendela dan mematikan laptopnya dan pergi keluar kamar untuk mengambil air wudhu. Setelah menunaikan shalat magrib, Asa kembali menatap foto yang ada dimeja belajarnya sewaktu SMA.

“Ridho… entah sekarang lo ada dimana. Apa nanti lo dateng ke acara reuni SMA kita?”

Kling..kling…

Smartphone Asa bedering. Ada sebuah pesan singkat masuk.

From : Nando
Udah siap Sa? Gue udah didepan rumah lo. Lo jadi kan dateng ke reuni SMA?

Asa pun segera mengetik balasan untuk Nando.

From : Asa
Tunggu 15 menit lagi, gue akan keluar rumah.

Sementara itu diluar rumah, Nando hanya tersenyum kecil membaca pesan dari Asa. Kemudian dia memasukkan ponselnya kedalam saku celana jeansnya.

“Asa… Asa… dari dulu sampe sekarang sifat lo nggak berubah ya…”

“Udah lama, Ndo?” tanya Asa sambil menepuk pundak Nando.

“Di lama-lamain aja deh,” ujar Nando sekenanya. Dia pun memperhatikan style Asa malam ini yang tak biasa.

“Kenapa lo natap gue kayak gitu, Ndo?” tanya Asa keheranan.

“Nggak apa-apa. Penampilan lo berubah Sa. Sekarang lo cantik.”

“Trims.” Asa tersenyum, kemudian naik ke boncengan motor Nando. “Gue cantik dari dulu kali, Ndo.”

“Nggak. Dulu pas SMA lo cupu. Sekarang lo cantik,” sahut Nando sambil menjalankan motornya. Asa hanya tersenyum tipis.

“Kira-kira… penampilan Ridho sekarang kayak apa, ya?”

—<>—

Suasana reuni SMA 77 di hotel Mutiara malam minggu itu cukup ramai ketika Asa dan Nando tiba. Setelah mengisi buku tamu, mereka segera masuk ke aula hotel yang luas dan cukup ramai itu.

“Nando!” panggil seorang pria dari arah meja makan. Nando dan Asa pun berjalan menuju tempat pria tersebut. Pria itu tak sendiri, dia bersama ketiga temannya.

“Lo… Dika?” tanya Nando memastikan. Pria yang bernama Dika itu mengangguk sambil tersenyum.

“Lo nggak berubah ya, Ndo?” tanya pria yang duduk dihadapan Dika.

“Iya enggak lah, gue tetep ganteng ya? Eh lo Marcel?”

“Iya gue Marcel, masa lo gak inget?” tanya Marcel.

“Lo kurusan, Cel. Jadi gue pangling. Hahaha!”

“Kalo gue, lo inget?” orang yang disamping Marcel bertanya.

“Arsyan, kan? Lo nggak banyak berubah.”

“Ini siapa? Pacar lo? Lo kesini sama pacar lo?” tanya Dika sambil menatap Asa. Asa hanya tersenyum menahan tawa.

“Gue Asa, Ka.”

“Hah?! Asa?!” ujar Marcel, Dika dan Arsyan bersamaan. Bahkan, pria yang duduk dihadapan Arsyan, yang sedari tadi diam saja ikut-ikutan menoleh kea rah Asa. Ketika pandangan mereka bertemu, baik Asa maupun pria itu saling salah tingkah. Asa mengenal tatapan mata itu.

“Lo Ridho bukan?” tanya Asa memastikan. Ridho pun menatap kaget pada Asa.

“I… iya.. elo… beneran Asa?” Ridho balik bertanya.

“Iya, kalian nggak percaya kalo ini gue?”

Keempatnya kompak menggeleng. Nando pun memutuskan untuk duduk disamping Arsyan, sementara Asa duduk disamping Ridho.

“Kenapa pada nggak percaya?” tanya Asa sambil duduk.

“Karena dulu pas SMA. Lo cupu,” ujar Dika.

“Pake kacamata,” celetuk Marcel.

“Pake behel juga. Trus kutu buku,” tambah Arsyan.

Penampilan Asa malam ini memang tidak biasa. Dia memakai kemeja merah, rambutnya dipotong model shaggy dan dicat coklat, dan sekarang… tidak ada lagi kacamata dan behel. Asa tersenyum kecil.

“Kacamata lo kemana Sa? Lo udah nggak minus lagi?” tanya Ridho.

“Gue pake softlens sekarang,” jawab Asa kalem.

“Trus behel lo?” kali ini Nando yang bertanya.

“Kane lo udah tahu, Ndo. Sekarang gigi gue udah agak rapi, gimana sih?”

“Dih, giliran jawab pertanyaannya Ridho kalem, kenapa jawab pertanyaan gue rada sewot?” celetuk Nando.

“Habis lo juga sih…”

Melihat hal itu, Ridho, Dika, Marcel dan Arsyan hanya dapat tertawa.

“Asa…” bisik Ridho ditengah keramaian acara.

“Kenapa, Dho?”

“Bisa kita ngomong sebentar diluar?” tanya Ridho. Asa pun mengangguk. Mereka pun segera pergi ke taman hotel.

“Mau ngomong apa, Dho?” tanya Asa.

“Sa… dulu pas kita masih kelas 2 SMA, lo ngasih gambar gue lagi main futsal kan?”

Mendengar hal itu, Asa terkejut bagai disambar petir. Namun sebisa mungkin Asa menyembunyikan rasa terkejutnya itu. “Eum… kan Nando yang ngasih.”

“Iya, lo nitip sama Nando kan?”

Asa pun salah tingkah, sehingga tak mampu menjawab pertanyaan Ridho.

“Trus…” ujar Ridho pelan, tetapi Asa masih sanggup mendengarnya. “Yang nitip salam di mading, lo juga kan? Dan… lo itu…secret admirer gue, kan?”

Asa tak sanggup lagi menyembunyikan perasaannya. Dia pun melempar pandangan kearah kolam renang.

“Buat apa sih, Dho, bahas masa-masa SMA?” ujar Asa. Dari nada suara Asa, seperti ada tangis tertahan di tenggorokannya.

“Lho, ini kan reuni, jadi gak apa-apa dong kalo gue nanya masa SMA kita?”

Asa menggigit bibir bawahnya, kemudian dia menatap Ridho. “Iya Dho. Itu gue. Tapi…”

“Tapi apa?”

“Lo tahu darimana soal ini?”

“Dari Nando… kemaren dia chat sama gue di facebook, trus dia cerita semuanya…” jelas Ridho.

Mendengar penjelasan Ridho, Asa langsung merasa malu. Dia pikir, Ridho peka terhadap perasaannya. Dan dia pikir, mala mini Ridho akan… ah.. begitu mendengar penjelasan Ridho yang mengetahui hal itu dari Nando… Dia segera masuk kedalam aula dan mencari Nando.

“Nando! Sialan emang!!!” umpatnya dalam hati.

Tamat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s