Cinderella Boy

Cast :

Haryo

Sisi sebagai Ibu tiri

Cornelia

Tasia

Bella sebagai Agen pencari bakat

Genre : Comedy

—<>—

Suatu hari di pinggiran kota Tangerang, tinggallah seorang pemuda bernama Haryo bersama keluarga tirinya. Ayah kandungnya sedang ada dinas di Timor Leste, sementara Ibu kandungnya sudah lama meninggal. Singkat cerita, Haryo ini sering di bully oleh Ibu tirinya.

Sisi :”Haryo!!!! Haryo!!!!”

Haryo :”Ada apa, Ma?”

Sisi :”Pake tanya segala lagi. Inget tugas kamu dirumah ini. Ngepel sana!”

Haryo :”Ma, kayaknya baru 5 menit yang lalu deh aku ngepel. Masa harus ngepel lagi sih?”

Sisi :”Sekarang Mama punya peraturan baru. Yaitu ngepel setiap lima menit sekali!”

Haryo :”Ma… (menghela napas) Kalo aku ngepelnya lima menit sekali, trus kapan waktu aku buat masak? Kapan waktu aku buat nyuci? Kapan waktu aku buat beresin kamar Tasia sama Cornel? Kapan, Ma? Kapaaann???”

Sisi :” Oh iya, ya? (menepuk jidat) Mama lupa.”

Haryo :”Deuh, faktor umur nih kayaknya.”

Sisi :”Yaudah sana! Sekarang kamu masak makan siang. Sebentar lagi Tasia sama Cornel pulang. Jangan sampe mereka pulang tapi makanan belum siap.”

Haryo :”Beres, Ma” (hormat pada Sisi, lalu pergi menuju dapur)

Haryo pun mulai memasak makanan sambil bernyanyi. Impiannya adalah menjadi salah satu anggota boyband Korea, tapi karena keterbatasan tampang dan suara, dia terpaksa mengubur impian itu dalam-dalam. Entah apa makanan yang Haryo masak, tercium bau aneh dan Sisi bergegas pergi ke dapur untuk memarahi Haryo.

Haryo :”Balonku ada lima… Rupa-rupa warnanya… Hijau kuning kelabu… Merah muda dan biru… Meletus balon hijau… DOR!”

Sisi :”Haryooo!!! Kamu masak apaan, sih?”

Haryo :”Masak semur jengkol, Ma.”

Sisi :”What!? Semur jengkol? Ewhh…” (menutup hidung)

Haryo :”Kenapa, Ma? Bukannya ini makanan kesukaan Mama, ya?”

Sisi :”Kapan Mama bilang begitu? Lagipula, emang kamu pernah lihat Mama makan makanan itu?”

Haryo :”Mama emang gak pernah bilang, tapi aku pernah lihat.”

Sisi :”Kapan? Jangan ngaco deh.”

Haryo :”Minggu kemaren pas aku pulang sekolah. Aku lihat Mama dan Ibu-Ibu PKK lagi pada makan di warung jengkolnya Bu Jajang. Mama makan semur jengkol, kan?”

Sisi :”Itu karena… (salting) udah deh, cepet ganti menu! Mama gak tahan sama bau jengkol!”

Haryo :”Yakin gak tahan? Pas di warteg aku sempet denger Mama bilang semur jengkolnya enak banget ya? Berarti Mama suka, kan?”

Belum sempat Sisi membalas, datanglah Tasia dan Cornel.

Tasia, Cornel :”MAMAAAAAAAAAAA!!!”

Sisi :”Apaan, sih? Teriak-teriak aja udah kayak di hutan.”

Cornel :”Aku laper, Ma.”

Tasia :”Sama. Si Haryo masak apa, Ma?”

Haryo :”Makanan favoritnya Mama. Semur jengkol.”

Cornel :”What!? Semur jengkol? Emang itu makanan favorit Mama ya?”

Sisi : (Muka bohong) “Nggak sayang. Itu gak bener.”

Haryo :”Mama ngelak mulu, sih? Jelas-jelas aku lihat dan denger Mama pas di Warteg.”

Tasia :”Ma, jangan bilang kalo siang ini kita mesti makan semur jengkol itu?”

Haryo :”Ya harus dimakan lah semur jengkolnya. Gue kan, udah capek-capek masak.”

Cornel :”Hah? Nggak! Gue gak mau makan semur itu!”

Tasia :”Sama! Aku juga gak mau!”

Sisi :”Tuh kan! (membuang panci berisi semur jengkol masakan Haryo)kamu tuh udah dibilangin suruh ganti menu malah gak mau! Pake acara mojokin Mama segala lagi! Sebagai hukumannya, kamu gak boleh ikut Mama sama adik-adikmu makan diluar!”

Haryo :”Tapi Ma…”

Sisi :”Gak ada tapi-tapian! (menoleh ke Tasia dan Cornel) Tasia, Cornel, kita makan pizza diluar aja yuk. Kalian boleh makan sepuasnya.”

Tasia :”Asyiiiik! Haryo gak diajak week” (menjulurkan lidah pada Haryo)

Cornel :”Berarti aku boleh nambah sepuasnya dong, Ma?”

Sisi:”Iya sayang. Ayo kita pergi.”

Sisi bersama kedua anaknya pun melangkah pergi keluar rumah. Meninggalkan Haryo yang sedang meratapi nasib karena semur jengkol buatannya tumpah dilantai.

Haryo :”Yaallah, apa salah aku ya Allah L”

Karena galau akibat semur jengkolnya dibuang, Haryo pun pergi berjalan-jalan mengitari kampung. Setelah sekian menit berjalan mengitari kampung, dia melihat ada sebuah kontes menyanyi.

Bella :”Yaa hadirin sekalian yang berbahagia. Siapa lagi yang mau untuk menyumbangkan suaranya. Siapa tahu ada yang menang dan bisa jadi artis.”

Haryo :”Mbak… saya mau ikutan boleh?”

Bella :”Boleh Mas, boleh. Siapa tahu Mas menang dan bisa menjadi penyanyi terkenal.”

Haryo :”Wahh seru tuh. Yaudah Mbak saya ikutan.”

Bella :”Baiklah, ini adalah kontestan selanjutnya, yaitu Haryo dari kampung Jarangmandi! Beri tepuk tangan yang meriah untuk Haryo!”

Penonton pun bertepuk tangan. Haryo mulai bernyanyi.

Haryo : (nyanyi sampe lagunya habis)

1 jam kemudian…

Bella :”Ya pemirsa, semua kontestan sudah mengeluarkan suara emasnya. Kini giliran pengumuman pemenangnya!!!”

Penoton bersorak-sorak.

Bella :”Dan, pemenang dari lomba kontes ini dan yang berhak untuk menjadi penyanyi terkenal adalah… (hening) HARYO DARI KAMPUNG JARANGMANDI!!! Beri tepuk tangan yang meriah!!!”

Penonton pun bertepuk tangan

Bella :”Ya saudara Haryo, silakan naik keatas panggung.”

Haryo : (naik keatas panggung)”Bapak-bapak, Ibu-Ibu, Mbak-Mbak, Mas-Mas, Adek-Adek penonton semua. Terimakasih sudah mensupport saya. Kepada bapak-bapak dan ibu-ibu dewan juri, terimakasih sudah menjadikan saya sebagai pemenang (mengangkat piala) terimakasih, terimakasih…”

Tanpa Haryo ketahui, rupanya audisi tersebut masuk tv dan ditonton oleh keluarga tirinya disebuah restoran.

Cornel :”Mama!!! Lihat tv Ma!!!”

Sisi :”Kenapa sih? Di restoran masih aja teriak-teriak?”

Tasia :”Haryo masuk tv Ma!”

Sisi : (kaget) “Hah? Serius kamu?! Mana?!!”

Cornel : “Itu, Ma!” (nunjuk tv)

Sisi pun melihat ke tv yang dimaksud Cornel. Tampak Haryo sedang memegang piala disebuah kontes menyanyi.

Sisi :”Haryo! Kok bisa?”

Sisi dan kedua anaknya pun segera pergi menuju rumah. Setelah sampai dirumah, taka da tanda-tanda keberadaan Haryo dirumah. Kemudian mereka menemukan sepucuk surat dimeja makan.

Tasia : (membaca surat) “Untuk Mama, Tasia, dan Cornel. Aku pergi dari rumah ini karena aku udah nemu pekerjaan yang lebih baik. Sekarang aku udah jadi artis. Makasih buat Mama yang udah mau nampung aku disini. Makasih juga buat Tasia sama Cornel udah ngehina semur jengkol aku. Kalo Papa udah pulang dari Timor Leste, bilang aku baik-baik aja. Haryo.”

Cornel:”Jadi, Haryo beneran jadi artis?”

Tasia :”Dan dia udah pergi dari rumah ini?!”

Sisi :”TIDAK!!! NTAR SIAPA LAGI YANG BISA DISURUH-SURUH!!”

—<>—

Satu tahun kemudian…

Haryo berjalan-jalan di kampung Jarangmandi dengan gaya layaknya artis. Memakai kemeja bagus, celana jeans keren, dan kacamata hitam. Kemudian dia bertemu dengan Cornel dan Tasia.

Cornel :”Haryo? Ini elo bukan?”

Haryo : (buka kacamata) “Hah? Siapa lo?”

Tasia :”Ini gue Tasia.”

Cornel :”Gue Cornel, Yo. Masa’ lo lupa sama adik lo.”

Haryo :”Oh, yang ngehina semur jengkol gue?”

Tasia dan Cornel mengangguk.

Haryo :”Sayangnya, gue lagi banyak syuting nih. Kapan-kapan aja ya kalo mau ngomongin semur jengkol.” (pergi)

Sejak saat itu, Haryo pun menjadi artis terkenal.

Tamat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s