7 Misteri di Sekolah

“Ada yang pernah denger tentang 7 misteri yang ada disekolah kita?” tanya Asa. Pagi itu Asa, Jelita, Desy dan Suci sedang berkumpul sebelum bel masuk.

“Hah? 7 misteri?” tanya Jelita kaget.

“Iya, pada tahu gak?”

“Emang ada ya?” tanya Desy polos.

“Itu juga baru denger-denger sih. Tapi yang pasti, gue pernah ngalamin satu kejadian. Baru kemaren,” jelas Asa.

“Apaan sih? Pagi-pagi udah nge-gosip,” celetuk Nando yang baru datang.

“Berisik lo, Ndo! Sini gabung,” ajak Suci. Nando pun menaruh tasnya di meja dan bergabung bersama keempat cewek tersebut.

“Ada apaan emang? Kayaknya serius amat. Lagi ngomongin kegantengan gue ya?” tanya Nando.

“Dih, pede mode on lo!” ujar Jelita sambil menjitak Nando. Nando hanya meringis sambil mengelus kepalanya.

“Terus apaan?”

“Makanya, dengerin dongeng gue dulu dong,” ujar Asa. “Lo tahu gak 7 misteri yang ada disekolah ini?”

Mendengar pernyataan Asa, Nando justru tertawa sekencang-kencangnya. “Hahahaha! 7 misteri? Hari gini masih percaya takhayul?”

“Gak usah pake ngakak bisa keles…” ujar Asa sewot. “Kan itu terserah elo mau percaya atau nggak!”

“Pagi-pagi udah ribut! Ada gosip apaan emang?” tanya Arsyan yang duduk di meja sebrang.

“Ada aja,” ujar Suci singkat. Arsyan pun memutuskan untuk bergabung bersama mereka.

“Emang disekolah ini ada misteri apa aja, Sa?” tanya Desy.

“Ohh lagi pada ngomongin misteri sekolah ini, ya?” Arsyan menyimpulkan setelah menarik salah satu bangku.

“Iya. Lo tahu, Syan?” tanya Asa.

“Tahu. Yang ada di ruang OSIS itu kan?”

“Nah, itu salah satunya.”

“Trus ada apa lagi?” tanya Desy penasaran.

“Pertama…” ujar Asa dengan gaya seperti senior yang mengajari murid-muridnya. “Kalian tahu tengkorak biologi yang ada di UKS itu kan?”

“Iya, kenapa sama tengkorak itu?” tanya Suci.

“Konon, tengkorak itu bisa jalan sendiri kalo udah malem. Keluar dari UKS gitu, padahal UKS terkunci. Dan kalian sadar nggak, tiap hari posisi tengkoraknya berubah-ubah. Kadang di deket lemari obat, kadang di deket kamar mandi, kadang dideket pintu.”

Asa menjelaskan panjang lebar. Suci, Desy, Jelita dan Arsyan pun memperhatikan penjelasan tersebut. Sementara Nando justru nyaris tertawa, namun dengan sigap Jelita langsung menendang kaki Nando, membuat cowok itu bungkam.

“Bisa jadi OB yang mindahin,” celetuk Nando.

“Lah, OB aja gak tahu-menahu soal itu,” sahut Asa.

“Yang kedua apa, Sa?” Desy berusaha menengahi sebelum Asa dan Nando berdebat.

“Kedua…” Asa menggantung kalimatnya, membiarkan kelima temannya itu menunggu dengan penasaran. “Tangga dari lantai 2 menuju lantai 3.”

“Tangga? Tangganya biasa aja tuh,” celetuk Nando.

“Sepintas tangga itu emang kelihatan biasa aja. Gak ada yang spesial. Tapi kalo kalian hitung pas naik tangga…”

“Kenapa, Sa? Jangan gantung-gantung gitu dong!” protes Jelita.

“Hehehe sorry,” ujar Asa sambil membentuk angka 2 dengan tangannya. “Kalo kalian hitung pas naik, jumlah anak tangga itu ada 28. Tapi kalo kalian hitung pas turun…” Asa mengambil napas panjang.

“Pas turun, anak tangganya berubah menjadi 29. Nambah satu anak tangga.”

“Paling lo aja yang salah ngitung,” celetuk Nando.

“Bukan gue yang ngitung, Ndo. Ini juga gue denger dari gosip yang beredar,” sahut Asa.

“Yasudah, lanjut ke misteri ketiga,” ujar Desy yang makin penasaran.

“Ketiga, ini yang udah sering beredar di kalangan murid-murid, yaitu ruang OSIS.”

“Oh yang sering ada tangisan itu ya?” tanya Arsyan.

“Nah iya yang itu.”

“Gue udah pernah ngalamin, rada horor sih, tapi gak begitu,” ujar Arsyan.

“Berhubung yang ketiga udah pada tahu, jadi gue skip ke misteri keempat ya?” tanya Asa. Kelima temannya hanya mengangguk.

“Keempat, ruang musik yang di lantai 3. Katanya sih, malem-malem sering ada bunyi piano gitu. Tapi gak ada yang mainin.”

“Paling juga cuma ringtone hp OB yang ketinggalan,” lagi-lagi Nando nyeletuk, karena dia sama sekali tidak percaya dengan yang namanya misteri.

“Nando gak usah protes! Dengerin aja!” sentak Jelita sambil menendang kaki Nando, membuat cowok itu berubah menjadi anak manis yang duduk dengan tenang.

“Yakali Ndo. Masa’ ada ringtone hp lagunya Beethoven,” sahut Suci.

“Kelima, Sa?” tanya Desy yang wajahnya tampak semakin penasaran.

“Kelima, lapangan basket. Kata salah satu OB yang pernah ngelihat dan ngalamin, sekitar jam 12 malam sering kedengeran suara orang nyapu. Kalian tahu kan, suara sapu lidi yang disapu di atas lapangan basket?”

Kelima temannya mengangguk. Asa mengambil napas sebelum melanjutkan ceritanya.

“Nah, karena bunyi ‘srek-srek’ yang berisik itu, si OB heran kenapa dan siapa yang nyapu tengah malam gitu. Tapi pas disamperin… ternyata gak ada yang nyapu! Dan, pas di cek diruang logistik, sapu-sapu lidi masih rapi disana. Jumlahnya gak kurang dan gak lebih. Gak ada tanda-tanda abis dipake juga.”

Kelima temannya pun memasang tampang kepo dan tak sabar menanti cerita keenam. Termasuk Nando yang daritadi memprotes cerita tersebut. Ekspresi wajah Nando berubah menjadi agak tegang, membuat Asa melanjutkan ceritanya.

“Keenam, cermin yang terletak di pojok kantin, diatas wastafel…” sekali lagi Asa mengambil napas sebelum melanjutkan ceritanya.

“Konon, kalo kita bercermin di cermin itu pada malam hari, akan muncul 2 bayangan. Satu bayangan kita, dan satu lagi adalah bayangan…” Asa menggantung kalimatnya sambil mengangkat bahu. “Siapa yang tahu?”

“Lah, lagian siapa juga yang mau ngaca malem-malem disana? Kurang kerjaan,” ujar Suci.

“Ci, itu kan, kalimat yang baru aja mau gue ucapin! Lo ngambil ya?” protes Nando.

“Dih, siapa juga yang ngambil. Kan gue duluan yang ngomong.”

“Yang terakhir, Sa?” tanya Desy, Arsyan, dan Jelita yang semakin penasaran.

“Yang terkahir…” Asa menatap Desy yang duduk disebelah kanannya, lalu menatap Jelita yang duduk disamping Desy, kemudian Nando yang duduk didepannya, lalu menatap Arsyan yang duduk disamping Nando, dan Suci yang duduk disebelah kirinya.

“Yang terakhir apa Sa?”

“Nah… itu dia masalahnya…” ujar Asa pada akhirnya. Suaranya pelan, tapi kelima temannya masih sanggup mendengarnya. “Nggak ada satu orang pun yang tahu tentang misteri ke 7.”

“Yahhh kalo kayak gitu, misterinya cuma ada 6 dong!” ujar Nando sambil memukul meja.

“Ada 7, Ndo… tapi yang ketujuh biar jadi misteri. Gak ada yang tahu soal misteri ketujuh!” sahut Asa sewot.

“Kok lo jadi sewot, Sa?” tanya Arsyan.

“Abisnya, Nando ngeselin.”

“Jadi, misteri yang terakhir itu tabu ya, Sa?” tanya Desy.

“Bisa jadi begitu, Des. Misteri yang ketujuh itu pamali, jadi kita gak harus dan gak boleh tahu,” ujar Asa pelan.

Teeet… teeet… teeet…

Bel masuk pun berdering, bergema diseluruh penjuru SMA 7. Mereka pun segera membubarkan diri menuju meja masing-masing, kecuali Desy dan Jelita. Karena mereka sedari tadi berkumpul di meja Desy dan Jelita.

* * *

Kasihku sampai disini
kisah kita jangan tangisi
keadaannya bukan karena kita berbeda

Ponsel Arsyan berdering ketika dia sedang mengerjakan pr matematika di malam hari. Arsyan melihat foto Nando dan deretan nomor ponsel Nando tertera dilayar ponsel.

“Halo, kenapa Ndo?” tanya Arsyan setelah menekan tombol hijau.

“Syan, lks Bahasa Inggris gue kebawa sama elo, gak?” tanya Nando disebrang sana.

Arsyan mengangkat alisnya. “Lks Bahasa Inggris?”

“Iya, kebawa sama elo, gak?”

Arsyan pun menyadari sesuatu. Seingatnya, lks Nando tertinggal di lab Bahasa Inggris.

“Nggak, Ndo. Kalo gak salah, ketinggalan di lab deh.”

“Hah? Ketinggalan di lab? Serius lo?”

“Duarius, Ndo. Atau lo tanya Asa, siapa tahu ada di dia.”

“Udah, Asa bilang gak tahu. Desy, Jelita, Suci, Marcel, Dika juga udah gue tanya, tapi nggak ada yang tahu.”

“Nah berarti ketinggalan di lab. Karena tadi gue sempet lihat lks lo jatuh.”

Disebrang sana, Nando menggerutu kesal. “Kalo lo lihat, kenapa gak lo ambil?”

“Yaa gue mana tahu kalo itu punya lo. Dan, gue kira lo nyadar, trus lo bakal balik ke lab buat ambil.”

“Dasar! Yaudah gue mau ke sekolah dulu. Mau ambil lks gue. Makasih ya infonya.”

“Hah? Malam-malam gini?” tanya Arsyan shock.

“Iya.”

“Kenapa gak besok pagi aja?”

“Hei pinter, Bahasa Inggris kan ada pr di lks, dikumpulin besok.”

Arsyan hanya mengangguk sambil nyengir, walau dia tahu Nando tak dapat melihatnya. “Hehehe, iya juga sih.”

“Yaudah, makasih ya infonya.”

Nando pun menutup teleponnya, kemudian dia berpikir sejenak.

Yakin nih, gue bakal ke sekolah malam-malam begini?

* * *

Jadilah malam itu Nando memarkir sepeda motornya di tempat parkir SMA 7. Nando memarkir motornya persis dibawah pohon petai yang rimbun. Kalau siang sih, pohon itu terasa sejuk dan membuat motor yang terparkir dibawahnya tidak terasa panas. Tapi kalau malam hari, suasananya sangat horor.

Nando berjalan menyusuri koridor SMA 7. Suasana tampak sepi dan cahaya lampu neon yang remang-remang membuat suasana sekolah pada malam hari terasa makin mencekam. Lab bahasa ada di lantai 3, itu artinya dia harus melewati tangga misterius saat di lantai 2 nanti.

Tak sampai 5 menit, Nando tiba didepan tangga yang ‘katanya’ misterius itu.

“Kata Asa, kalo naik jumlah anak tangganya ada 28, tapi kalo turun, nambah satu…” ujar Nando. “Gue coba hitung ah.”

Nando pun menjejakan kakinya diatas anak tangga pertama “satu…”

“…dua…”

“…tiga…”

“…empat…”

Nando terus berhitung, sampai akhirnya dia tiba di lantai 3 “…dua puluh delapan.”

Jumlahnya ada 28 anak tangga.

Tanpa pikir panjang lagi, Nando segera pergi menuju lab bahasa. Suasana di lab itu sangat mencekam, tak ada penerangan sedikitpun. Nando mengambil ponselnya yang kebetulan bisa difungsikan sebagai senter. Tepat diatas sebuah meja, dia melihat sebuah buku lks, yang tak lain tak bukan adalah miliknya.

“Untung ketemu, coba kalau enggak,” ujar Nando. Dia pun segera melangkah keluar.

Namun, mendadak Nando mendengar sesuatu.

Suara orang bermain piano dari arah ruang musik yang letaknya kebetulan tepat disamping lab bahasa. Nando rasa dia tahu lagu yang dimainkan itu. Lagu Beethoven, tapi dia lupa judulnya.

Ting ting ting ting ting ting ting…. ting ting ting ting…

Nando penasaran. “Siapa sih yang malam-malam begini iseng bermain piano?” Akhirnya, Nando memutuskan untuk mengintip kearah ruang musik.

Seketika mata Nando melebar. Dari jendela tempatnya mengintip, tampak seseorang bertubuh besar sedang duduk membelakanginya, dan asyik memainkan piano. Semakin lama, lagu yang dimainkannya semakin menyeramkan.

Tiba-tiba, sosok itu memutar kepalanya, sementara tubuhnya tetap dalam posisi membelakangi Nando. Kepala orang itu… berputar 180 derajat! Nando seakan bisa merasakan tatapan tajam dan dingin dari orang itu. Tanpa berpikir dua kali, dia segera berjalan cepat menuju tangga.

“Satu…”

“…dua…”

“…tiga…”

Sambil turun, Nando terus menghitung, sampai akhirnya dia sampai di dua anak tangga terakhir.

“…dua puluh delapan…”

“…dua puluh sem… bilan?”

Hah?!

Nando terkejut sendiri, dan dia yakin kalau dia tidak salah menghitung. Tapi dia juga tidak begitu mempercayainya. Bisa jadi sosok yang dia lihat di ruang musik tadi hanyalah halusinasinya, dan dia salah menghitung anak tangga ketika turun. Tapi dia yakin dia tidak sedang berhalusinasi dan tidak salah menghitung.

Srek…srek… srek… srek…

Nando kembali mendengar sesuatu, kali ini dari arah lapangan basket. “Ngapain OB malem-malem nyapu lapangan? Kurang kerjaan.”

Nando pun memutuskan untuk berjalan menuju lapangan basket, namun saat di koridor, dia melihat sesosok tubuh berjalan mengjampirinya. Semakin dekat, Nando melihat sosok itu begitu kurus, dan berjalan sangat kaku. Namun Nando tak menghiraukannya. Bisa jadi itu hanya OB yang kebetulan masih ada di sekolah, kan?

Sosok itu semakin dekat. Dari pantulan cahaya bulan yang menembus di koridor, Nando melihat sosok itu adalah tengkorak. Hmm.. Nando tahu. Tengkorak itu alat peraga yang disimpan di UKS.

Hah?!

“Kenapa tengkoraknya bisa ada disini? Siapa yang mindahin?” tanya Nando dalam hati.

Nando semakin melongo, ketika dia melihat tengkorak itu berjalan melewatinya begitu saja. Aneh, pikir Nando. Dia berharap saat ini dia sedang bermimpi, namun pada kenyataannya, kejadian ini sungguh terjadi. Nando pun memutuskan untuk mengikuti kemana perginya tengkorak itu sambil tetap menjadikan ponselnya sebagai senter.

Tengkorak itu pergi menuju kantin.

Karena iseng dan ingin membuktikan omongan Asa tadi pagi, sambil mencuci tangan di wastafel Nando bercermin di cermin itu. Tampak bayangan dirinya yang sedang cuci tangan dan…

Seorang perempuan berambut panjang dan berwajah superputih!

Nando menoleh ke samping, namun di samping kanan kirinya tidak ada siapa-siapa. Kosong. Nando kembali menoleh kearah cermin. Sosok perempuan itu tersenyum padanya, namun pandangan matanya sangat sayu dan wajahnya seperti kekurangan darah.

Nando pun mundur beberapa langkah, dan segera lari meninggalkan kantin. Tak peduli lagi soal tengkorak itu. Yang ada dipikirannya sekarang adalah : bangun dari semua mimpi buruk ini.

Nando memilih untuk melewati jalan alternatif menuju tempat parkir, yaitu melewati ruang OSIS. Saat sampai didepan ruang OSIS, lagi-lagi suatu keanehan terjadi.

Dia mendengar sebuah tangisan bayi dari arah ruang OSIS. Nando sudah tak sanggup lagi berpikir secara logika lagi. Diapun berbalik, dan pergi menjauh dari ruang OSIS. Lari sekencang-kencangnya menuju tempat parkir tanpa melewati ruang OSIS tersebut. Melewati jalan terjauh menuju tempat parkir, yaitu kembali ke koridor, melewati lapangan basket dan ruang guru.

Sesaat Nando berhenti didepan ruang guru karena kehabisan napas. Dia berusaha mengatur napasnya dan menghitung beberapa kejadian misterius yang menimpanya malam ini. Pertama, ruang musik. Kedua, tangga. Ketiga, lapangan basket. Keempat, tengkorak. Kelima, kantin. Dan keenam, ruang OSIS. Sudah 6 cerita misterius Asa yang menimpanya. kemudian sampai dia mendengar beberapa telepon berdering dari arah ruang guru. Kemudian disusul oleh berderingnya bel diseluruh penjuru sekolah.

Dan kemudian, Nando mengetahui apa misteri ke-7 sekolahnya, tanpa diketahui anak-anak lain.

Dia melihatnya sendiri, kejadian itu tampak jelas dimatanya.

Dia melihat sesuatu yang sangat aneh, bahkan tak bisa masuk kedalam logika sekalipun.

Ternyata, kejadian ketujuh itu muncul saat seluruh telepon sekolah dan bel berdering bersamaan.

Nando terpaku ditempatnya, hingga beberapa detik kemudian dia berlari menuju tempat parkir dan mengendarai motor sekencang-kencangnya menuju rumahnya.

—<>—

“Lks lo udah ketemu, Ndo?” tanya Arsyan begitu Nando menaruh tas di mejanya.

“Udah, bener kata lo. Ketinggalan di lab semalem,” sahut Nando malas.

“Lo semalem ke sekolah, Ndo? Yaampun!” ujar Asa yang tahu-tahu sudah berada didekat Nando.

“Iya Sa. Kenapa?”

“Lo… ngalamin something gak?”

“Iya, dan gue tahu apa misteri ke 7 disekolah ini,” ujar Nando dengan cengiran lebar di wajahnya.

“Yakin lo tahu?!” ujar Asa dan Arsyan bersamaan. Nando hanya nyengir.

“Iya, gak percaya?”

“Nggak…” Asa dan Arsyan menjawab dengan kompak.

“Yaudah, gue kasih tahu.”

Arsyan dan Asa mengangguk, kemudian Nando memulai ceritanya.

“Jadi, misteri yang ke 7 itu…”

Belum sempat Nando melanjutkan ceritanya,bel masuk sudah berdering.

“Udah bel, ceritanya kapan-kapan aja yaa…” ujar Nando. Kedua temannya menggerutu sebal, kemudian kembali ke tempat masing-masing.

Yah… memang sepertinya misteri ke 7 itu hanya Nando yang tahu.

 

Tamat

 

——-

 

yap, bagaimana cerpennya? udah hampir setahun aku gak buka blog ini, lagi ga ada inspirasi juga buat nulis, jadi aku nge-posting cerpen tugasku aja disini wkwkw xD

coment always ditunggu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s