Dear Oppa [Oneshoot]

dear-oppa

Cast : SNSD Yoona, 2PM Junho || Genre : Family, Life || Lenght : Oneshoot || Ratting : G || Disclaimer : Terinspirasi dari sebuah novel, cerita hanya milik author, dan cast hanya milik tuhan || Summary : Yoona dan Junho adalah seorang kaka beradik. Suatu hari, karena suatu hal Junho harus pergi mendahului Yoona. Dan dihari ulang tahun Junho, Yoona menulis sebuah surat untuk diberikan kepada kakaknya suatu hari nanti.

# # #

25 Januari, jam 00.00

Aku masih terjaga didepan meja belajar denan sebuah pulpen ditanganku dan sebuah kertas dihadapanku. Aku sedang menulis surat untuk seseorang yang sangat spesial. Orang yang mengisi hari-hariku ketika aku kecil. Orang yang bernama Lee Junho, kakakku.

25 Januari 2014

Oppa…

Selamat ulang tahun yang ke 24, aku harap kau selalu tetap tersenyum dan terus melihatku meskipun sekarang kita jauh.

Oppa…

Tahun kemarin kita masih bisa merayakan ulang tahunmu bersama. Kita bangun tengah malam, dan aku memberikan sebuah mp3 player untukmu. Pagi harinya kita pergi ke pasar bersama, untuk membeli bahan makanan dan merayakan ulang tahunmu bersama teman-temanmu.

Oppa…

Ingatkah kau tentang kenangan masa kecil kita?
Saat aku masih berumur 9 tahun, dan kita sedang bermain ditaman. Saat itu aku merengek-rengek padamu minta dibelikan eskrim, padahal kau hanya punya uang pas-pasan pada saat itu. Kemudian karena aku terus menangis, akhirnya kau membelikan eskrim itu untukku, dan kau tidak makan eskrim sama sekali. Dan kau mengatakan “aku tidak apa-apa.”

Oppa…

Sewaktu aku SMP, dan kita pulang bersama, kau ingat hal itu? Saat itu aku diganggu oleh sekelompok anak-anak nakal, dan kau melindungiku hingga wajahmu penuh memar dan darah segar mengalir dari mulutmu. Dan kau hanya mengatakan, “aku tidak apa-apa.”

Oppa…

Dulu, aku pernah memukul pelipismu dengan sapu sehingga sapu itu patah. Apa kau masih mengingatnya? Saat itu di minggu pagi, kau membangunkanku dengan lembut untuk mengajakku jogging bersamamu. Aku yang saat itu sedang bermimpi indah, terganggu oleh suaramu yang merdu saat membangunkanku. Saat itu aku kasel dan segera mengambil sapu di dapur, kemudian memukul pelipismu hingga terluka, dan aku langsung pergi meninggalkanmu. Aku tahu kau pasti sangat marah pada saat itu. Siang harinya, saat aku meminta maaf, kau hanya bilang “aku tidak apa-apa.”

Oppa…

Ingatkah kau saat eomma dan appa memutuskan untuk bercerai? Saa itu kau berusaha keras untuk menghiburku, meski dalam hatimu kau jauh lebih tersiksa dengan perceraian ini dibanding aku. Dan kau hanya bilang “aku tidak apa-apa.”

Oppa…

Saat eomma dan apa bercerai, kau memutuskan untuk tidak tinggal dengan salah satu diantara mereka, dan mengajakku untuk tinggal bersama. Saat itu kau baru masuk universitas terbaik dan mendapatkan beasiswa. Untuk hidup sehari-hari, kau kerja sambilan menjadi pelayan disebuah restoran didekat kampusmu. Saat kau tanya “apa kau lelah?” kau hanya menjawab “aku tidak apa-apa.”

Oppa…

Kau selalu memperhatikan pola makanku, memperingatiku agar tidak tidur terlalu malam, menanyakan apa masalah yang sedang kuhadapi disekolah dan mendesakku untuk menceritakannya. Tapi aku, sama sekali tidak memperhatikan pola makanmu, jam tidurmu, bahkan menanyakan masalahmu. Apa kau masih akan bilang “aku tidak apa-apa”?

Oppa…

Ingatkah kau pada pertemuan terakhir kita? Saat terakhir aku mendengar suaramu ditelepon? Saat itu aku memintamu untuk menjemputku disekolah saat sedang gerimis. Saat itu kau baru saja pulang kerja karena kau merasa tidak enak badan. Aku terus mendesakmu, tidak mau mendengar alasanmu sehingga kau harus menjemputku. Namun, satu jam, dua jam, 3 jam aku menunggu, hasilnya nihil. Kau tidak menjemputku. Setelah 4 jam menunggu, akhirnya Wooyoung oppa, salah satu sahabatmu menjemputku dan memberi tahuku bahwa kau mengalami kecelakaan saat perjalanan menjemputku. Wooyoung oppa bilang, sebuah truk menabrak motormu sehingga kau terpental sejauh 15 meter dari mototrmu. Kau kritis dan segera dilarikan kerumah sakit. Kami pun segera pergi ke rumah sakit. Namun sayang, saat aku tiba dirumah sakit, kau sudah pergi beberapa menit yang lalu.

Oppa…

Saat itu aku terus menangis, meratapi diri, kenapa aku memaksamu disaat kondisimu sedang kurang sehat. Kenapa kau tidak bersabar sedikit, menungguku yang sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit? Kenapa oppa? Apa kau marah padaku?

Oppa…

Apa kau menyesal punya adik sepertiku? Adik yang selalu menyusahkanmu? Tapi, aku tidak pernah menyesal punya kakak sepertimu. Kau selalu bilang “aku tidak apa-apa” ketika aku menyakitimu. Tapi sekarang, suara itu tidak pernah terdengar lagi ditelingaku. Kuharap, aku bisa mendengarnya lagi ketika kita bertemu di surga.

Adikmu

Yoona

Aku menutup surat itu dengan butiran airmata yang membasahi pipiku. Aku membacanya, dan aku yakin Junho oppa juga membacanya dari surga. Akupun segera mematikan lampu dan naik ke ranjangku. Berharap aku bertemu dengan Junho oppa dialam mimpi.

# # #

haha maaf ya agak aneh, ini author bikin request-an dari luna.park12@ymail.com

mian yaa kalo kurang memuaskan, happy reading^^ comment ditunggu buat readers yaa

Advertisements

One thought on “Dear Oppa [Oneshoot]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s