[FF] So bad (Oneshoot)

so bad

So Bad

Poster By : cherylgloria

Main Cast : SNSD Yuri, 2PM Junho || Support Cast : 2PM Nichkhun || Genre : Romance, Friendship || Lenght : Oneshoot || Disclaimer : semua tokoh disini hanya milik tuhan, milik agensi masing-masing dan millik keluarga masing-masing. Cerita 100% hanya milik author, terinspirasi dari sebuah lagu 2pm yang berjudul “so bad” || Summary : Entah karena apa, Nichkhun memutuskan untuk meninggalkan kekasihnya—Yuri—padahal mereka sudah menjalin cinta selama satu tahun. Disisi lain, Junho—teman masa kecil Yuri—diam-diam menaruh perasaan pada gadis tersebut. Apakah Yuri dapat melepaskan Nichkhun dan menerima Junho?

# # #

“Kau kenapa, Khunnie?” tanya Yuri pada kekasihnya itu. Sementara Nichkhun—sang kekasih—hanya menunduk. Menunduk karena dia sangat yakin dengan keputusannya.

“Khunnie, jawab aku!” ujar Yuri berusaha menahan airmatanya.

“Maafkan aku, Yuri. Aku sudah berkali-kali berpikir untuk keputusan ini. Dan ternyata memang benar, perpisahan adalah jalan terbaik.”

“Tapi kenapa?”

“Karena aku… tidak ingin menyakitimu lebih lama. Kau bisa mengerti itu kan?”

Nichkhun pun segera meninggalkan Yuri. Tanpa Yuri sadari, sebenarnya Nichkun tidak menginginkan perpisahan itu.

“Khunnie, tunggu!!!”

# # #

“Pagi Yuri, kenapa wajahmu murung seperti itu?” tanya Junho pada Yuri saat mereka hendak berjalan menuju sekolah. Yuri hanya menggeleng lemah.

“Kau kenapa sih? Tidak seperti biasanya kau begini. Oiya, hari ini kau tetap membuatkanku makan siang kan?” Junho bertanya sekali lagi.

Yuri hanya menatap Junho “Maaf, aku tidak membuatkanmu makan siang. Tapi nanti aku akan mentraktirmu.”

Junho menghela napas.

“Kau tidak seperti biasanya. Biasanya kau berangkat dengan ceria, dengan senyum menghiasi wajahmu, dan kau selalu membawakan makan siang untukku nanti. Tapi hari ini berbanding terbalik. Ada masalah?” ujar Junho.

“Nichkhun… dia memutuskanku.”

“Apa?! Kapan?!”

“Kemarin. Sudahlah, kita akan terlambat kalau kita terus mengobrol disini.”

Junho hanya mengangkat bahu, kemudian berjalan mengikuti Yuri.

# # #

“Bulgogi ini memang enak, tetapi tidak seenak buatanmu.” Keluh Junho. Sementara Yuri hanya mengaduk-aduk toppoki-nya tanpa selera.

“Maaf Junho.”

“Besok kau akan membuatkan makan siang untukku kan? Aku minta dibuatkan sushi yaa.”

“Besok, sepertinya aku tidak. Kalau kau ingin sushi, tunggulah minggu depan, aku akan mentraktirmu.”

“Yuri, kau kenapa sih? Sudah lupakan saja cowok itu. Dia itu bodoh. Bisa-bisanya dia meninggalkan gadis cantik sepertimu.”

Yuri hanya tersenyum tipis mendengar ucapan sahabatnya itu.

“Ne Junho, kau benar. Terimakasih.”

“Terimakasih untuk apa?”

“Untuk semuanya, kau adalah sahabat terbaikku.”

Junho merasa dadanya berdebar-debar mendengar ucapan itu. Dilihatnya gadis cantik yang sedang makan didepannya dengan perasaan sayang. Tanpa Junho sadari, pipinya memerah.

“Junho…” panggil Yuri lemah. Nyaris tak terdengar.

“Kenapa?”

“Aku mau tanya satu hal. Tapi kau jangan marah yaa.”

“Apa itu?”

“Apa menurutmu aku ini bagaimana? Menyebalkan? Kekanak-kanakan? Atau aku ini manja? Tolong jawab jujur.”

“Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?”

“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu.”

“Menurutku, kau itu sangat cantik, baik, pandai memasak, dewasa, ramah, ceria.”

“Apa kau tidak berbohong padaku?”

“Tidak, aku kan sudah bersamamu semenjak kita belum sekolah. Aku lebih tahu sifatmu dibanding orang lain.”

“Ohh, begitu.”

# # #

Flashback..

“Hei Junho! Cepat kejar layangannya.” Teriak seorang gadis kecil kepada temannya. Mereka berdua sibuk mengejar layangan yang putus akibat tersangkut pohon.

“Sepertinya sudah terbang jauh, aku tidak kuat lari lagi.” Ujar temannya yang bernama Junho.

“Yasudah, besok kita beli lagi ya.”

“Nee..”

“Junho, lihat!” gadis kecil itu menunjuk ke langit biru dengan gumpalan awan putih yang sangat indah. Langit disore hari memang begitu menarik.

“Indah ya Yuri.” Sahut Junho. Mereka pun merebahkan diri di hamparan rumput hijau.

“Iya, mungkin layangan itu akan terbang menembus awan. Andai aku bisa terbang…” celetuk Yuri.

“Kau pasti bisa.”

“Bagaimana caranya? Aku kan tidak punya sayap.”

“Suatu hari nanti, aku akan membuatkan pesawat untukmu. Dan aku akan mengajakmu terbang menembus awan. Dan mencari layangan itu.”

“Membuatkanku pesawat? Kau janji?”

“Ne aku janji.” Junho pun menyodorkan kelingkingnya pada Yuri. Yuri membalas mengikatkan kelingkingnya pada Junho.

Flashback end…

Junho menatap sebuah foto lama yang ada di meja belajar kamarnya. Fotonya dan Yuri yang masih berusia 5 tahun. Foto dimana dia saat itu dia berjanji pada Yuri akan membuatnkannya sebuah pesawat.

“Yuri, sejak kecil kau memang cantik. Aku janji aku akan buatkan sebuah pesawat untukmu.

# # #

Sementara itu dirumah Yuri…

Yuri sedang belajar malam itu. Sesekali dia melirik ponselnya. Tak ada panggilan masuk. Tak ada pesan dari Nichkhun. Dan itu yang membuatnya tidak bisa konsentrasi belajar.

“Sudah seminggu ini Khunnie tidak menghubungiku. Jangan-jangan dia memang tidak main-main.” Ujarnya.

Yuri pun berjalan menuju jendela kamarnya. Disibaknya tirai dan dibuka jendelanya. Angin malam yang sejuk seketika masuk ke kamar Yuri.

Kamar Yuri ada di lantai 2, jadi dia bisa melihat jalan disekitar rumahnya melalui jendela kamarnya. Dia pun menatap langit malam yang bertabur bintang-bintang.

“Tonight really want you baby
Tonight really want you baby
Tonight really want you baby
So bad, so bad”

Yuri menyanyikan sebuah lagu yang menjadi lagu favoritnya akhir-akhir ini. Lagu yang sangat tepat untuk menggambarkan suasana hatinya.

“Biasanya saat ini aku sedang telpon-telponan dengan Khunnie sambil menatap bintang. Tapi sekarang…”

‘Yuri, kau sudah makan belum?’

‘Yuri, coba lihat langit malam ini, ada begitu banyak bintang.’

‘Yuri, malam ini aku sedang banyak pr, jadi aku tidak bisa lama-lama, maaf ya.’

Yuri kembali teringat dengan suara Nichkhun. Suara yang menyuruhnya untuk makan, atau sekedar ngobrol sebentar di telepon. Yuri menghela napas.

“Suaramu sangat menyebalkan, sedangkan suaraku seperti menghilang. Udara malam harii sepertinya sudah membekukan hatimu.”

Yuri pun mengambil ponselnya. Dia baca pesan terakhir dari Nichkhun sebelum Nichkhun benar-benar tidak menghubunginya lagi.

Form : Khunnie

Aku tahu kita tidak akan pernah bersama lagi. Dan aku tidak akan pernah memegang ponselku untuk menghubungimu. Aku harap, kau tetap jaga kesehatan, jangan telat makan, karena sekarang tidak ada yang akan mengingatkanmu makan selain ibumu.

Yuri tersenyum pahit membacanya. Sampai kapanpun dia tidak akan pernah menghapus pesan itu.

“Khunnie.. semoga kau sehat-sehat saja.”

# # #

“Yuri, apa kau ada janji malam ini?” tanya Junho saat pulang sekolah.

“Tidak, kenapa?”

“Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu. Bisa kan?”

“Ne, kau akan menjemputku kan?”

“Tidak.” Canda Junho.

“Aishh yasudah aku tidak bisa datang. Aku mau mengerjakan pr saja.”

“Hari ini kan malam sabtu, sementara sabtu kan kita libur. Ayolah kumohon.”

“Tapi kau harus menjemputku, kalau tidak, aku tidak mau.”

“Iya iya aku akan menjemputmu. Tadi aku hanya bercanda.”

Yuri hanya terkekeh “Ne, jemput aku yaa.”

Yuri dan Junho pun berjalan bersama menuju halte bus. Sementara Nichkhun yang sejak tadi memperhatikan Yuri hanya bisa menahan kekecewaan. Dia kecewa dengan keputusannya, namun dia juga tidak menyesal. Keputusanku sudah matang, aku tidak mau menyakitinya lagi. Batinnya.

“Yuri, aku lapar.” Ujar Junho manja.

“Lapar? Kau ini, istirahat tadi kau tidak makan apa-apa ya?”

Junho hanya tersenyum sembari memamerkan deretan giginya yang putih bersih.

“Aishh tadi kan aku mau mentraktirmu, kau bilang kau sudah makan.”

“Aku tidak akan makan makanan di kantin. Rasanya tidak seenak buatanmu. Makanya ajak aku kerumahmu dan buatkan aku makanan.”

“Kalau kau tidak mau makan makanan di kantin, kenapa kau tidak bawa bekal saja?”

“Kau lupa? Ibuku tidak pernah menyiapkan makanan untukku. Sarapan saja hanya dengan roti.”

“Oiya, orangtuamu kan orang sibuk. Yasudah ayo makan dirumahku. Kau mau makan apa?”

“Sushi!!” jawab Junho antusias.

“Huh dasar.”

# # #

“Ini sushi pesananmu Mr Lee.” Ujar Yuri sembari meletakkan sepiring Sushi dihadapan Junho.

“Asiikk, itadakimasu!” teriaknya seperti anak kecil.

“Oiya, jangan lupa ini bonnya.” Ujar Yuri sembari memberikan catatan kecil pada Junho.

“Apa?! Kukira ini gratis.”

“Di dunia ini sudah tidak ada yg gratis, Mr Lee.”

“Tapi kau biasa membuatkan ini untukku, Nona Kwon.”

Yuri pun tertawa, kemudian berkata “Hahaha aku hanya bercanda Junho. Jangan marah.”

Junho hanya cemberut, kemudian mulai memakan sushinya. Sementara Yuri hanya melihat kelakuan Junho sembari tersenyum.

‘Akhirnya Yuri bisa tersenyum lagi.’ Batin Junho.

# # #

Yuri sedang menunggu kedatangan Junho ketika ponselnya berdering. Dia lihat display name-nya, dari Khunnie, panggilan kesayangannya kepada Nichkhun. Didalam hatinya bercampur perasaan bingung dan rindu.

‘Khunnie, sudah lama aku merindukan ini. Kenapa baru sekarang?’

“Hallo, Khunnie, ah bukan. Nichkhun, ada apa?” ujar Yuri seramah mungkin.

“Yuri, aku ingin bicara denganmu, bisa kita pergi sebentar? Aku akan menjemputmu.” Ujar Nichkhun dari sebrang telpon.

“Maaf aku sudah punya janji. Bisakah kita bicara di telepon?”

Nichkhun hanya menghela napas, “Apa hubunganmu dengan Junho?”

Mendengar pertanyaan dari Nichkhun, Yuri terkejut bagai disambar petir.

“Maksudmu?” tanyanya heran.

“Aku lihat sepertinya kau sangat dekat dengan Junho. Apa hubunganmu dengannya?”

“Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Aku hanya tidak ingin kau terlalu dekat dengannya.”

“Kau ini kenapa? Aku dan Junho hanya teman semasa kecil. Dia adalah adik kecilku. Dan kenapa kau melarangku untuk dekat dengannya? Kau kan sudah bukan…”

“Aku masih pacarmu!” potong Nichkhun.

“Apa?!”

“Aku akan jelaskan besok. Bisakah kita bertemu?”

Tak lama kemudian, Junho pun datang menjemput Yuri. Obrolan antara mantan kekasih itupun terputus.

“Yuri, kau sudah siap?” tanya Junho dari luar.

“Ne, tunggu aku.” Ujar Yuri.

“Maaf ya aku putus, aku ada janji, kita lanjutkan besok.” Yuri pun memutus sambungan telepon.

“Ayo kita berangkat.” Ujar Junho tanpa turun dari motornya. Yuri pun naik ke jok belakang motor Junho.

“Ne, aku siap.” Sahut Yuri.

“Pakai helm dan pegangan yang erat. Karena aku akan ngebut.”

Yuri pun menuruti perintah Junho. Kemudian Junho menjalankan motornya dengan kecepatan sedang.

“Junho? Kau akan mengajakku kemana?” teriak Yuri karena dia yakin Junho tidak akan mendengarnya kalau dia tidak berteriak.

“Ke tempat yang sangat indah.” Sahut Junho yang juga berteriak.

“Dimana?”

Junho tidak menjawab.

# # #

“Junho… kenapa kita ada disini?” tanya Yuri saat mereka tiba ditempat yang dimaksud Junho. Di puncak Seoul Tower.

“Indah bukan? Aku hanya ingin mengajakmu kesini, karena aku yakin, kau pasti suka dengan suasana seperti ini. Banyak lampu-lampu gedung yang terlihat seperti bintang yang bertebaran.” Jelas Junho.

Yuri menatap sekitar. Memang benar kata Junho. Pemandangan Seoul Tower malam hari memang indah.

“Junho, terimakasih. Kenapa kau baik sekali padaku?”

“Karena aku temanmu. Tak usah berterimakasih padaku.” Ujar Junho sembari tersenyum. Yuri pun memeluk Junho, yang membuat Junho jadi salah tingkah.

“Junho, aku.. aku…”

“Kenapa?”

“Aku sangat bersyukur memiliki sahabat sepertimu.”

“Aku juga. Meskipun aku bukan pacarmu, tetapi aku ingin selalu melindungimu.”

“Kenapa? Jangan bilang kau…” tanya Yuri. Perlahan ia melepaskan pelukannya.

“Ya, karena aku menyukaimu.” Jawab Junho sembari tersenyum.

“Tapi… perasaan seseorang tidak bisa dipaksa Junho. Kau tahu kan aku…”

“Kau tak perlu menjadi kekasihku. Aku tahu aku tidak bisa menjadi seperti Nichkhun, karena aku bukan Nichkhun. Yang penting, selalu siapkan makan siang untukku, karena pasti aku akan merindukannya.” Potong Junho.

“Merindukannya? Maksudmu?”

“Minggu depan aku akan pergi ke Jerman.”

“Apa?! Kenapa?”

“Aku akan belajar disana. Untuk menepati janji yang kubuat dulu. Membuatkan pesawat untukmu.”

# # #

“Sudah lama menungguku?” tanya Yuri saat dia tiba di kafe tempat Nichkhun menunggu.

“Tidak, aku juga baru sampai, duduklah.”

Yuri pun mengikuti saran Nichkhun untuk duduk.

“Kau mau pesan apa? Biar aku yang bayar.”

“Sudah tak usah basa-basi, intinya, apa maksudmu di telepon semalam? Pacar?”

“It because… i still love you.”

Mendengar kata-kata itu, refleks Yuri berteriak “Apa?!”

“Itu karena, aku masih mencintaimu.” Ujar Nichkhun menterjemahkannya.

“Tapi…”

“Kenapa? Kau berpacaran dengan Junho? Bukankah semalam kau bilang kalian hanya teman kecil?”

“Tidak, itu, maksudku.. kalau kau masih mencintaiku? Kenapa kau memutuskanku?”

“Karena kau yang paling aku cinta, aku terpaksa untuk mengucapkan kata putus.”

“Tapi kenapa?”

“Kau memiliki mimpi yang harus kau raih. Ingat, ujian kelulusan sebentar lagi, kau harus belajar keras untuk itu. Kau harus masuk universitas terbaik di Korea.”

“Iya, tapi kalau kau memutuskanku, aku.. aku tidak bisa konsentrasi belajar. Aku terus memikirkanmuu.” Yuri pun mulai menangis.

“Yuri, you don’t have to cry. You don’t have to show. Semua impian berada di tanganmu. I will be ok.”

“Tapi.. tapiii…”

“Let me see your smile, you don’t have to say. Kau harus terus bersinar Yuri.”

Yuri pun memaksakan diri untuk tersenyum, meskipun airmatanya terus mengalir.

“Sesungguhnya, aku benar-benar masih mencintaimu.” Ujar Nichkhun.

# # #

“Ini makan siangmu. Maaf tadi aku bangun kesiangan, jadi bekalmu bukan sushi melainkan sandwich.” Ujar Yuri sembari memberikan kotak makanan pada Junho.

“Thanks Yuri.” Ujar Junho singkat kemudian memakan makanannya karena perutnya sudah minta diisi makanan.

“Kau… jadi akan pergi ke Jerman?”

“Nee. Tapi diundur. Aku akan ke Jerman setelah ujian. Aku akan kuliah disana.”

“Ne, semangat ya.”

“Thanks. Kau juga, semoga masuk ke  universitas pilihanmu.”

Yuri hanya tersenyum. Ditatapnya sahabat kecilnya yang sedang makan. Kalau dilihat, Junho memang cukup menarik. Matanya yang sipit dan wajahnya yang kekanak-kanakan memang menjadi ciri khasnya.

Yuri pun menoleh ke lapangan basket. Disana ada Nichkhun yang sedang bermain basket dengan keringat membanjiri tubuhnya. Nichkhun saat berkeringat memang keren, batin Yuri.

“Kau tak makan?” tanya Junho membuyarkan lamunannya.

“Aku, tidak lapar, kau saja yang makan.”

“Huuh, yasudah.”

Yuri kembali melanjutkan aktivitasnya memperjatikan Nichkhun. Dia teringat kata-katanya dengan Nichkhun kemarin.

Flashback..

“Sesungguhnya, aku benar-benar masih mencintaimu.” Ujar Nichkhun.

“Lalu, bagaimana dengan kelanjutan hubungan kita?”

“Aku tidak akan menjadikanmu sebagai kekasihku lagi, sebelum kau sukses meraih impianmu.”

“Jadi, dengan kata lain…”

“I will never fall in love again, and i will never be the same. Yang kuinginkan hanya kau.”

Flashback end…

# # #

Satu bulan kemudian, tiba saatnya untuk ujian kelulusan. Yuri sudah mempersiapkan semuanya, termasuk mempersiapkan kepergian sahabatnya ke Jerman.

“Junho, kau sudah buat paspor?”

“Ne, semua sudah disiapkan ayahku. Aku hanya tinggal menunggu tanggal berangkat.”

“Selamat ya, kumohon jangan lupakan aku.”

“Ne, aku akan selalu mengingatmu dan janjiku padamu.”

“Huh dasar, yasudah semoga sukses ujiannya.”

“Kau juga yaa.”

Karena terlalu asyik mempersiapkan ujian, Yuri sampai lupa dengan Nichkhun. Ya, Yuri sudah mulai sedikit melupakan cintanya pada Nichkhun. Cintanya pada buku pelajaran melupakan cintanya pada Nichkhun.

“Nichkhun bilang, aku harus meraih impianku.” Ujar Yuri.

“Cowok itu lagi. Kau bilang kau sudah bisa melupakannya?”

“Ne, aku memang bisa melupakannya, tetapi kata-kata itu terus terngiang dipikiranku.”

“Huuh dasar. Ayo cepat nanti kita terlambat.”

# # #

Satu minggu kemudian, setelah selesai ujian…

Yuri mengantar Junho ke bandara. Yuri sadar ini adalah detik-detik terakhir dia berbicara dan bercanda dengan Junho sebelum kepergiannya ke Jerman.

“Junho, ini sushi untukmu. Dimakan ya di dalam pesawat.” Ujar Yuri menyerahkan kotak makan pada Junho. Junho menerimanya sebari tersenyum.

“Thanks, ngomong-ngomong, bagaimana aku mengembalikan kotak makan ini nanti? Biasanya kan begitu makanan habis langsung kuberikan lagi padamu.”

“Aish tidak usah repot begitu pikiranmu. Simpan saja sebagai kenangan dariku. Kenangan masa SMA dulu.”

“Oh iya, hehehe.”

“Junho…”

“Ne?”

“Jaga dirimu baik-baik.”

“Kau juga ya, i love you.”

Junho pun segera masuk ke bagian imigrasi, kemudian melambaikan tangan pada Yuri. Yuri membalas lambaian itu sembari tersenyum.

“Junho, kau akan kembali kan? Kembalilah dengan selamat, adik kecilku.”

# # #

Satu tahun kemudian…

Yuri sedang menonton berita tentang pesawat baru yang akan diuji coba. Pesawat itu bernama KYR 100. Yuri dengar pembuat pesawat itu adalah seorang mahasiswa yang berasal dari korea. Yuri terus menonton berita itu.

“Aku tahu siapa pembuatnya. Mungkin dia adalah…”

Pesawat itu sudah layak pakai. Kabarnya pesawat itu akan dipakai sebagai penerbangan antar Korea dan Jerman.

Seorang pemuda pembuat pesawat itu pun diwawancara. Yuri kenal pemuda itu. Pemuda yang mengisi hari-harinya dulu.

“Aku punya janji dengan seorang gadis untuk membuat sebuah pesawat, dan pesawat ini nantinya akan aku gunakan untuk membawanya ke sini. Ke Jerman.” Ujar pemuda itu saat diwawancara.

“Siapa nama gadis itu?” tanya reporter.

“Dia adalah Kwon Yuri, inisial namanya kupakai untuk menamai pesawat ini.” Jelasnya.

“Lalu, apa pesanmu untuknya?”

“Kwon Yuri, kuharap kau menonton wawancara dan ujicoba pesawatku tadi. Aku harap kau masih ingat aku. Janjiku sudah kutepati, dan aku masih menyimpan ini.”

Pemuda itu menunjukkan sebuah kotak makan ke arah kamera. Kotak makan yang sangat dikenal oleh Yuri.

“Lee Junho, kau masih seperti dulu. Tetap seperti anak kecil, dan tetap menjadi adik kecilku.”

The end

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s